Digulungnya Matahari, Gelapnya Bulan, dan Jatuhnya Bintang-bintang pada Akhir Zaman

Lembaga Qiroati  Pusat - MATAHARI yang terbit setiap pagi, yang menerangi bumi dengan cahayanya dan memberi kita sinar dan energy yang dibutuhkan oleh mata dan tubuhkita serta dibutuhkan oleh makhluk hidup yang melata dan tumbuhan yang tumbuh di bumi ini, paa hari kiamat akan dilipat dan digulung, dan hilanglah cahayanya. Allah SWT berfirman, “Apabila matahari telah digulung,” (QS. at-Takwir: 1).
Laporkan iklan?

Bulan, yang kita lihat sebagai bulan sabit di awal setiap bulan dan kemudian berkembang sampai menjadi bulan purnama nan indah, yang menemani para musafir ketika berjalan di malam hari, yang para pujangga menyenandungkan keindahannya, pada hari kiamat akan menjadi gelap dan cahayanya pun sirna. “Apabila mata telah terbelalak, dan bulan telah padam,” (QS. al-Qiyamah: 7-8).

Bintang-bintang yang bertaburan di langit biru jatuh berguguran:

“Dan apabila bintang-bintang berguguran,” (QS. al-Infithar: 2).

“Dan apabila bintang-bintang menukik turun,” (QS. at-Takwir: 2).

ALLAH SWT memberi tahu kita bahwa bumi kita yang tenang ini dan gunung-gunung yang menancap dan kokoh di atasnya, pada hari kiamat, ketika sangkakala ditiup, menjadi hancur lebur sekaligus.

“Apabila sangkakala ditiup satu kali, dan bumi serta gunung-gunung diangkat lalu dibenturkan sekaligus (hingga hancur), maka pada hari itu terjadilah kiamat,” (QS. az-Zumar: 67).

“Janganlah begitu. Ingatlah, ketika bumi benar-benar digempur hingga hancur lebur,” (QS. al-Fajr: 21).

Ketika itu, gunung-gunung yang kokoh dan keras ini berubah menjadi pasir yang halus, sebagaimana dikatakan Allah SWT, “Pada hari bumi dan gunung-gunung berguncang keras, dan gunung-gunung menjadi gundukan pasir yang berterbangan,” (QS. al-Muzzammil: 14).

Pada bagian lain, Allah menggambarkan bahwa gunung-gunung itu menjadi seperti wol, yaitu bulu domba. “Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu domba,” (QS. al-Ma’arij: 9).
Laporkan iklan?

Kemudian Allah SWT memusnahkan gunung-gunung ini dan meratakan bumi hingga tidak ada tempat yang menonjol dan tidak ada pula yang legok. Al-Qur’an menggambarkan pemusnahan gunung-gunung itu dengan ungkapan, pada satu tempat, menerbangkannya dan, pada tempat lain, menghancurleburkannya.

“Dan apabila gunung-gunung diterbangkan,” (QS. at-Takwir: 3).

“Dan gunung-gunung diterbangkan, maka gunung-gunung itu menjadi fatamorgana,” (QS. an-Naba: 20).

“Dan apabila gunung-gunung telah dihancurleburkan,” (QS. al-Mursalat: 10).

Kemudian Allah menjelaskan keadaan bumi setelah gunung-gunung diterbangkan dan dihancurleburkan. “Dan pada hari Kami terbangkan gunung-gunung dan kamu lihat bumi itu jelas,” (QS. al-Kahf: 47). Yakni, jelas tanpa tonjolan dan lekukan, sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah yang lain, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung. Katakanlah, ‘Tuhanku akan benar-benar menghancurleburkannya, lalu dibiarkan-Nya menjadi tanah kosong Kamu tidak melihat ada lekukan di sana,” (QS. Thaha: 105-107).

Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar