Menanamkan Anak Cinta Al-Quran

Ibnu Khaldun menunjuk pentingnya menanamkan pendidikan Al-Qur’an kepada anak-anak ini.Menurutnya,al-Qur’an merupakan fondasi seluruh kurikulum pendidikan di dunia Islam,karena Al-qur’an merupakan syiar agama yang mampu menguatkan akidah dan mengokohkan keimanan.(Mukadimah Ibnu Khaldun:461)

Ibnu Sina juga menasehati agar memperhatikan pendidikan Al-Qur’an kepada anak. Menurutnya, segenap potensi anak, baik jasmani maupun akal, hendaknya dicurahkan untuk menerima pendidikan utama ini, agar anak mendapatkan bahasa aslinya dan agar akidah bisa mengalir dan tertanam pada kalbunya.

al-Ghazali juga menekankan pentingnya anak-anak dididik Kitab Suci Al-Qur’an.

Dengan menanamkan kecintaan anak terhadap Al-Qur’an sejak dini, maka kecintaan itu akan bersemi pada masa dewasanya kelak, mengalahkan kecintaan anak terhadap hal yang lain, karena masa kanak-kanak itulah masa pembentukan watak yang utama.

Pepatah mengatakan : “Datang kepadaku mencintainya sebelum aku mengenal cinta. maka cinta itu bertemu secara kebetulan pada jiwa yang kosong. Lalu kemudian cinta bersemi.”

Anak ibaratnya adalah lembaran yang masih polos dan putih. Bila sejak dini ditanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an maka benih-benih kecintaan itu akan membekas pada jiwanya dan kelak akan berpengaruh pada perilakunya sehari-hari, berbeda bila kecintaan itu ditanamkan secara terlambat di masa dewasa.

Sebelum usia 4-6 tahun pun, anak sebenarnya dapat dididik Al-Qur’an, hanya saja teknisnya informasi, misalnya aktivitas memperdengarkan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an, melatih mengeja huruf-huruf hijaiyah, serta kegiatan pra membaca lainnya kepada anak.

Menurut pakar psikologi pendidikan, menjelang usia dua tahun,anak mulai memiliki kemampuan untuk memberi atau mengenal nama benda-benda. Sementara sejak genap berusia dua hingga tiga tahun anak telah memiliki kesiapan untuk membaca.

Pada usia dini tersebut, anak kelihatan suka meniru. Bila orang tua memperdengarkan bacaan Al-Qur’an atau melatih mengeja huruf-huruf hijaiyah pada anak secara berulang-ulang, bacaan itu akan mudah diserap atau direkam di otak si anak, sebagaimana anak begitu mudah menyerap kata-kata kotor yang diperdengarkan didepannya berulang-ulang oleh orang tuanya.

Hanya saja,karena menyangkut dunia anak, sebisanya dihindari factor-faktor yang membuat anak benci,bosan atau lari dari pendidikan.

Dunia anak adalah dunia bermain.Ada bahaya yang sangat besar jika orang tua atau pendidik Al-Qur’an mengabaikan hal ini.Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menyatakan, “Hendaknya anak kecil diberi kesempatan bermain. Melarangnya bermain dan menyibukkannya dengan belajar terus akan mematikan hatinya, mengurangi cerdasnya, dan membuatnya jemu terhadap hidup,sehingga ia akan sering mencari alasan untuk membebaskan diri dari keadaan sumpek ini.”

Untuk mengatasi hal ini, jalan keluar antara lain ialah anak diberikan motivasi, tidak dikerasi namun disayangi, tidak dicela namun didukung, apapun yang terjadi. Anak juga tidak diberikan beban kerja yang berlebih, dari luar kapasitas kemampuannya. Sebaiknya anak diberikan kesempatan bermain, cerita, dan menyanyi (berkasidah) islami. Kalau perlu, ada hari-hari tertentu untuk rest (libur,istirahat) agar tidak monoton, karena pendidikan yang monoton kerap berefek menjemukan.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar