Kungfu Sang Penghafal Al-Quran


Bagaimana perasaan anda tatkala menyaksikan ada seorang yang memperagakan keterampilan bela diri dengan sangat gesit dan lincah? Terhibur dan kagum bukan? Tapi bagaimana seandainya orang itu memperagakannya tidak untuk menghibur akan tetapi justru “mengancam” dan “meneror“ anda dan itu di tempat yang sunyi di tengah malam dan tidak ada seorang pun di situ kecuali anda dan dia saja? Bagaimana perasaan anda? Tentu lain lagi jawabannya. Tapi Itulah yang saya alami bersama teman saya atau lebih tepatnya temannya teman saya (terserah anda, mau sebut itu teman, atau teman-teman atau teman-temanan), sebut saja namanya Kholid (nama samaran).

Kejadian itu terjadi sekitar enam tahun lalu, tatkala saya bersamanya menginap di suatu masjid di pinggiran kota DJ. Baru saja saya murajaah (mengulang) hafalan Al-Quran, tak terasa ternyata malam telah larut, seingat saya, sudah lewat jam setengah satu. Suasana masjid ketika itu telah sepi, tidak ada di situ kecuali tiga orang: saya, Kholid, dan teman saya lainnya, yaitu Imbar (nama samaran). Saya lihat Imbar telah tidur dengan penuh “khusyuk” di lantai dasar, sedangkan Kholid ada di lantai dua tidak terdengar pula suaranya. Mungkin ia telah tidur, itu yang saya kira. Melihat suasana yang sepi dan tenang seperti itu, otomatis saya pun terkena “virus” kantuk. Saya pun bergegas naik ke lantai dua untuk tidur.

Saya lihat Kholid telah terlelap di atas tempat tidurnya yang beralaskan papan. Karena kebetulan papan tempat tidur saya agak berdempetan dengan tempat tidurnya, saya pun menggesernya agar ada kerenggangan. Ketika saya sedang menggesernya dan ketika itu tangan Kholid di atasnya, tiba-tiba Kholid yang ketika itu sudah terlelap, seperti tersentak, ia membuka matanya, lalu memandang tangannya dengan pandangan yang tajam, seperti ada sesuatu di tangannya, saya heran ada apa dengannya. Tidak selang lama, ia bangkit, bergerak dengan cepat lalu memperagakan suatu jurus, jurus yang mengingatkan saya kembali ke film-film Mandarin! Ya, saya masih ingat dan masih segar di benak saya, itu yang pernah diperagakan Jackie Chan di dalam film-fimnya! Itu Jurus dewa Mabuk! Tapi sayangnya moment itu bukan untuk bernostalgia atau berdecak kagum, karena posisi saya ketika itu bukan sedang terhibur justru sedang “terancam”. Kholid seperti mengarahkan jurusnya ke arah saya.

Saya panik luar biasa. Apa saya akan menjadi “korban”nya? Apakah saya bersalah karena telah mengganggunya dari tidur? Saya berpikir, ini tidak wajar. Tidak mungkin orang yang normal ketika tidur tiba-tiba bangun dan “mengancam” dengan memperagakan jurus dengan gesit dan lincah. Melihat indikasi itu, seketika muncul kesimpulan di kepala saya, ini kesurupan! Kepanikan saya memuncak, karena ia makin mendekat ke saya. Saya harus mengambil jalan keluar segera. Saya teringat Imbar teman saya yang tidur di lantai bawah, saya ingin berteriak meminta tolong kepadanya, tapi entah kenapa, karena saking paniknya, suara saya seperti tercekat di tenggorokan, tak keluar sepatah kata pun dari mulut. Hanya ada dua pilihan bagi saya untuk menyelamatkan diri ketika itu, mengambil jurus langkah seribu atau maju “bertempur” dengannya.

Kalau untuk opsi pertama, repot pula, karena posisi saya terpojok, kiri kanan saya tembok, belakang saya pagar pembatas, apa mungkin saya loncat dari lantai dua ke lantai dasar? Saya masih belum punya nyali untuk itu. Kalau mau lewat pintu yang ada di hadapan saya, otomatis harus berhadapan dengan Kholid dulu. Tak ada pilihan kecuali perang! Tapi sayangnya nyali saya sudah dikalahkan rasa gentar saya sendiri. Kalau berhadapan dengan anak SD atau SMP sih, saya siap, tapi kalau menghadapi Kholid yang berperawakan kekar, tinggi, dan juga sangat “ganas” dengan jurusnya itu, rasanya saya harus berpikir panjang lagi.

Ketika kepanikan dan ketakutan itu telah memuncak, muncullah fitrah saya sebagai manusia yang membutuhkan Khaliknya tatkala terdesak, saya pun langsung berdzikir kepada Allah. Saya sudah tidak ingat apa yang saya ucapkan ketika itu, apakah istighfar, taawudz atau yang lainnya, yang jelas, subhanallah, hasilnya tidak mengecewakan. Walaupun tidak seketika, Kholid menghentikan “teror”nya. Ia terengah-engah seraya mengucapkan istighfar. Saya pun lega, “teror” sudah berakhir.

Tapi sayangnya “kemenangan” saya ini belum terwujud, Kholid kambuh lagi! Ia kembali “meneror” dengan gerakan Kungfu dewa Mabuknya, saya pun kembali panik. Tapi Alhamdulillah, “teror” ini ternyata tidak berlangsung lama, karena ia pun berhenti lagi dan kembali terengah-engah sembari beristighfar. Saya lega menyaksikan itu. Tatkala keadaan telah “aman” dan Kholid sudah tenang, saya pun menghampirinya. Saya “menginvestigasinya” , “Antum pernah belajar ilmu tenaga dalam, ya? “ Dia enggan menjawab. Lalu saya mengajukan beberapa pertanyaaan lagi tapi dia tetap tidak mau menjawab, sepertinya ia enggan terbuka dalam hal ini. Akhirnya saya biarkan saja ia menenangkan dirinya, sedangkan saya lebih memilih bersegera tidur,mengingat malam yang makin larut dan juga kondisi badan yang sudah lelah dan shock karena kejadian tadi.

Sebenarnya siapa sih Kholid itu dan apa yang menyebabkannya seperti itu? Harap jangan kaget kalau ia ini ternyata seorang hafizh (telah hafal Al-Quran 30 juz)! Lho kok bisa seorang hafizh jadi seperti itu? Nah, pertanyaan itu pula yang berputar-putar di kepala saya. Masak iya orang hafal 30 juz kesurupan jin?

Setelah kejadian itu saya tidak pernah bercerita kepada siapapun tentang itu. Akan tetapi karena rasa penasaran yang sudah memuncak dan juga pertimbangan kemaslahatan yang akan didapat, saya pun ceritakan kejadian malam itu ke salah seorang teman saya yang juga teman akrab Kholid ini. Saya pikir, tidak ada salahnya saya ceritakan ini kepadanya, karena ia orang terdekat dengan Kholid dan saya rasa ia berkompeten dalam hal ini, siapa tahu dengan itu bisa membantunya (Kholid)untuk sembuh atau setidaknya bisa memberi saran agar saya selamat dari “aksi-aksinya” di kemudian hari.

Setelah saya jelaskan kejadian itu, rupanya teman saya ini tidak terlalu terkejut. Ia bahkan mengabarkan bahwa Kholid ini pun dulu pernah juga kesurupan, bahkan aksinya ketika itu lebih dahsyat lagi: ia bisa loncat ke atas genteng dan atap mobil bak katak meloncat ke sana kemari! Kesurupannya itu sering kambuh. Pernah juga ia pulang dari suatu daerah menuju kampungnya menggunakan bis. Akan tetapi, setelah beberapa lama ditunggu keluarganya, ia tidak juga sampai ke rumah. Setelah beberapa hari atau minggu ia rupanya diketemukan seorang “ikhwan” yang kebetulan mengenalnya dalam keadaan menggembel di suatu kota yang berjarak lebih dari 300 km dari rumahnya! Astaghfirullah..Singkat cerita, Kholid rupanya kesurupan dalam perjalanan di bis, makanya ia tak sadar ketika sampai di kota lain yang bukan jadi tujuannya. Nadzubillah min dzalik..

Saya bertanya kepada teman saya ini apa penyebab kesurupannya yang pertama kali . Ia tidak bisa memastikan penyebabnya. Akan tetapi ada dua kejadian penting sebelum itu, dan itu kemungkinan besar sebagai penyebabnya. Yang pertama: dia baru saja mendapatkan masalah pribadi yang sangat memukulnya. Kedua: ia baru mengalami kecelakaaan ketika sedang berkendaraan motor bersama temannya. Temannya meninggal, sedangkan ia selamat. Kejadian itu sangat memukulnya pula, sampai-sampai setelah kejadian itu teman saya ini pernah mendapati di kamarnya (Kholid) obat-obatan yang termasuk kategori tidak dijual bebas[baca:terlarang].

Begitu mengkhawatirkan. Bahkan sampai sekarang pun (waktu ia berbicara sekitar enam tahun lalu), keluarganya masih merasa cemas kalau ia berada jauh dari rumah dan kampungnya. Selain itu, dampak negatif dari kesurupan pun terasa, di antaranya yaitu, hafalan Al-Qurannya “hilang” hingga hampir separuhnya! Dan yang perlu diwaspadai, kata teman saya ini, jin yang ada di tubuhnya ini bisa saja bereaksi kapanpun tanpa diduga. Astaghfirullah..

Dari kejadian-kejadian di atas saya petik beberapa pelajaran, di antaranya:

1. Seorang hafizh adalah manusia juga, ia bisa stres, kesurupan bahkan gila BILA IA LALAI dari mengingat Allah, MENGABAIKAN perintah-Nya dan BERMAKSIAT kepada-Nya.

Dan itu bukan mustahil. Bukankah mungkin seseorang menghafalkan Al-Quran tetapi tidak ikhlas, ingin ketenaran dan cinta pujian? karena siapa sih yang tahu isi hati seseorang kecuali Allah? Dan bukankah mungkin pula seseorang menghafal dan terus menghafal Al-Quran akan tetapi ia tidak memahaminya dan tidak juga mengamalkan kandungannya? Bacaaannya tidak melewati kerongkongannya [baca: tidak masuk ke hati]? Akan tetapi jangan dipahami dari tulisan ini, berarti saya menganjurkan orang untuk tidak menghafal Al-Quran atau bermalas-malasan menghafalnya. Tidak, bukan itu maksud saya. Justru saya menganjurkan siapapun untuk bersemangat dalam membaca dan menghafal Al-Quran, dan itu kebaikan yang sangat besar, insya Allah. Tapi tolong jangan berhenti sampai di situ saja, pahami pula dan tadaburilah serta amalkanlah kandungannya. “(Al-Quran) Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadaburi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. " (Shaad:29)

2. Tak ada korelasi antara hidayah dan kecerdasan.

Orang cerdas belum tentu orang yang paling berhak mendapatkan hidayah dari Allah. Seorang hafizh tidak dipungkiri lagi ia pasti memilki kecerdasan, akan tetapi apakah itu jadi jaminan ia akan selamat dari gangguan syaithan dan mendapat hidayah kalau ia LALAI dari mengingat-Nya dan menjalankan perintah-Nya? Seandainya hidayah itu di tangan orang-orang cerdas, tentu Albert Einstein lebih berhak masuk islam di bandingkan kita yang memilki IQ jauh di bawahnya. Dan kalau memang keselamatan dan hidayah itu diukur dengan kecerdasan, tentu Washil bin ‘Atha (pendiri sekte Mu’tazilah) tak akan menyimpang dari al-haq, karena ia termasuk murid Hasan Al-Bashri ( seorang ulama Tabiin) yang cerdas dan populer. Karena itu, yang merasa “cerdas” dan “berilmu” jangan membusungkan dadanya, hendaklah ia tawadhu, karena kecerdasan dan ilmu yang ia dapatkan selama ini bukan karena kecemerlangan dan kehebatannya, itu semata-mata karunia Allah yang diberikan kepadanya agar ia bersyukur dan mengamalkannya.

3. Kita harus waspada dari makar-makar syaithan.

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh kalian, maka anggaplah ia sebagai musuh, sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. “(Fathir:6)

Syaithan senantiasa memasang permusuhan terhadap seluruh mumin dan dia tidak pandang bulu dalam hal itu: apakah orang awam, ahli ibadah, ustadz, hafizh dan yang lainnya, seluruhnya adalah musuh syaithan. Karena itu waspadalah, bekalilah diri-diri kita dengan ilmu syari, bacalah Al-Quran dan Hadits, tadaburilah isinya dan amalkanlah kandungannya semampu kita. Mudah-mudahan dengan itu Allah melindungi kita semua dari makar syaithan, iblis beserta bala tentaranya serta memberikan curahan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga dengan itu terang dan terbimbinglah setiap langkah kita di dunia ini hingga saat meninggalkannya di akhir hayat nanti. Amin ya Rabbal’alamin..

Itu sedikit hikmah dan pelajaran yang bisa saya petik dari kejadian di atas, bagi teman-teman yang bisa menambahkan hikmah dan pelajaran lain, silahkan tambah dan sebarkan, mudah-mudahan Allah memberkahi kita semua. Amin.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar