Betapa Baik Allah SWT Pada Kita

Selesai melaksanakan shalat zuhur suka membawa pikiran melayang menembus batas, terkadang sempat ide aneh-aneh muncul dan menggerak mulut tersenyum sendiri. Tak jarang pula kelamunan pikiran menyadari betapa Allah begitu baik dengan manusia. Kendatipun manusia suka menjauhi atau melabrak aturanNya. Jika boleh jujur sesungguhnya Allah tak membutuhkan manusia taat atau tunduk padaNya karena tanpa manusia tunduk padaNya Allah sudah mulia bahkan Agung serta tak bisa ditandingi oleh siapapun. Melainkan Allah memberi manusia tunduk padaNya agar manusia selamat di dunia dan akhirat. Selaras dengan ungkapan indah syekh Muhammad al-Ghazali dimana perjalanan hidup manusia menunjukkan bahwa Allah menciptakannya untuk memuliakannya, bukan untuk merendahkannya, untuk menuntutnya di dunia bukan untuk menghinakannya.

Bahkan bertanya dengan hati sendiri kenapa pikiran terbawa pada renungan ini. Apakah mungkin ia termasuk manusia yang tidak mensyukuri nikmat dari Allah selama ini. Atau sengaja Allah sisipkan dalam pikiran agar menulis tentang kebaikan Allah dari perspektif ia. Coba meyakini bahwa kehadiran pikiran ini dalam benak adalah atas izin Allah agar terus merenungi kebaikan Allah tiada batas dan luas. Meskipun di balik kebaikan Allah sisipkan jua ujian-ujian. Sadar di balik ujian Allah sedang meng-traning ia dan melihat sejauh mana mampu bertahan hidup yang bersandar padaNya.

Jika boleh jujur apabila manusia jauh dengan Allah akan melahirkan manusia yang tamak, manusia yang rakus, manusia suka menyebarkan fitnah, manusia suka menghalalkan segala cara, manusia yang suka menghambil hak orang lain, manusia yang kurang bersyukur dan menjadi manusia tak sabar. Itu sebagian alasan kenapa manusia membutuh Allah setiap detik kehidupan. Supaya terjauhi dari sifat-sifat tercela dan hadirnya hati yang bersyukur serta diperolehnya ketenangan.

Sayangnya masih ada sebagian manusia tak menyadari bahwa mereka membutuhkan Allah dan begitu berani menentang keESAannya dengan kehebatan yang baru memiliki setetes ilmu pengetahuan saja. Bahkan manusia lebih sadar yang mereka butuh adalah jabatan, harta, penghormatan dan kebahagiaan. Sementara Allah dibutuhkan ketika ada ujian dan ketika ingin mewujudkan keinginan. Setelah ujian itu tak ada lagi dan keinginan telah terwujud maka mulai secara pelan-pelan menjauhi Allah. Jangan-jangan manusia memiliki sifat rakus, tamak, suka menyebar fitnah, menghalalkan segala cara, suka mengambil hak orang lain, tak bersyukur dan tak sabar. Mungkin mereka-mereka adalah orang yang jauh dari Tuhan atau tak paham dengan aturanNya? Entahlah tak berani mengambilkan kesimpulan. Padahal bila merujuk dari buku Al-Hikam yang ditulis oleh Ibnu Atha’illah Al-Iskandari bahwa jabatan, harta, penghormatan hanya bisa memenuhi kebutuhan lahiriah akan tetapi kebutuhan batin tak bisa terpenuhi. Apa yang bisa membuat batiniah tenang yaitu dengan cara selalu dekat dengan Tuhan melalui amalan-amalan harian.

Kendati pun manusia suka menjauhi Allah, melabrak aturanNya dan meragukan kebesaranNya. Tapi Allah tak pernah henti-henti mencurahkan nikmat kepada manusia. Dari nikmat terkecil hingga nikmat tak terhitungkan dan dari nikmat terlihat hingga tak tertampak. Bahkan nikmat diminta maupun tak diminta. Semua Allah penuhi agar manusia hidup tenang penuh kedamaian. Mulai dari nikmat kesehatan, nikmat jabatan yang pretesius, nikmat keluarga yang bahagia, nikmat penghormatan dari masyarakat umum, nikmat kelancaran rezki, nikmat ditutup aib, nikmat memiliki anak yang sholeh/shaliha, nikmat mempunyai orang tua yang penyayang, nikmat bisa menghirup udara segar, nikmat bisa tidur, nikmat bisa berjalan dan nikmat ketenangan jiwa. Jika dilistkan betapa banyak Allah mencurahkan nikmat pada manusia. Karena Dia lah yang maha kuasa. Ini terlampir jelas dalam Al-quran. Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui (QS. Al-An’am: 18). Tapi ironisnya itu sangat jarang dikatagori sebagai nikmat. Dianggap kenikmatan bila mempunyai harta mengunung, istri yang cantik, jabatan bergengsi dan mobil yang mewah-mewah. Jangan sampai hal-hal duniawi membuat kita memalingkan hati dan penglihatan buta pada Allah sehingga dengan bergelimang harta, tahta serta penghormatan menjadi hamba yang tersesat.

Sumber: www.dakwatuna.com
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar