Inilah Fakta Tentang Ruang Hampa Udara dalam AL-Qur’an

AL-QUR’AN merupakan sumber utama dari segala macam ilmu pengetahuan. Terbukti dengan banyaknya bahasan dalam ayat-ayat al-Qur’an yang memang sesuai dengan penelitian keilmuwan modern, contohnya seperti ayat yang menerangkan tentang proses penciptaan manusia yang membuat banyak ilmuwan kagum akan kebenaran ayat tersebut. Dan ada lagi satu ayat yang mengisyaratkan sebuah fakta ilmiah yang sangat mengagumkan yaitu tentang ruang hampa udara yang ada di luar angkasa.

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ

“Barang siapa dikehendaki Allah SWT akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah SWT menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman,” (QS. Al-An’am: 125).

Ayat ini mengisyaratkan sebuah fakta ilmiah yang sangat mengagumkan, karena telah dibaca dan diketahui oleh umat Islam sejak abad ke-6 Masehi. Sementara pembuktian secara ilmiah akan kebenarannya baru bisa dilakukan oleh para ilmuwan abad ke-20.

Ayat ini menggambarkan kondisi hati orang-orang kafir yang Allah SWT kehendaki kesesatan atas mereka. Dada mereka menjadi sempit. Hal tersebut tergambar dalam kalimat yaj’al shadrahu dhayyiqan hajara (Allah SWT menjadikan dadanya sesak lagi sempit).

Dalam menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir mengutip kisah Umar bi Khathab yang bertanya kepada seorang Arab Badui, “Apa arti al-hajarah?” Orang Arab Badui itu menjawab, “Satu pohon yang berada di antara pepohonan yang lain, yang tidak bisa dijangkau oleh pengembala, hewan, atau apa pun (tidak bisa sampai kepada pohon itu).” Umar lalu berkata, “Demikianlah hati orang munafik. Tidak bisa dimasuki oleh kebaikan sedikit pun.”

Atha’ al-Khurasani berkata, “Dhayyiqan haraja artinya tidak ada jalan masuk bagi sesuatu yang baik.”

Seseorang bisa mengalami sesak napas karena beberapa sebab, di antaranya, paru-parunya tidak berfungsi dengan baik sehingga tidak bisa menghirup oksigen dari lingkungan sekitarnya. Atau, paru-parunya berfungsi dengan baik tetapi oksigen yang tidak tersedia sehingga dia tidak bisa bernapas.

Penelitian oleh para ilmuwan membuktikan, sebagian udara terdapat pada troposfer, lapisan yang paling dekat dengan permukaan bumi tempat manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan hidup (sampai sekitar 5 km di atas permukaan laut). Komposisi udara ini terdiri dari nitrogen 78%; oksigen 21%; argon 0,93%; karbondioksida 0,38%.

Masih ada beberapa jenis molekul udara lain, seperti neon, helium, krypton, metane, hidrogen, nitrogendioksida, dan lain sebagainya, tetapi dengan kadar yang lebih kecil.

Nitrogen dan oksigen merupakan gas yang paling dibutuhkan oleh makhluk hidup. Volume terbanyak dari dua unsur ini terdapat pada lapisan atmosfer yang paling dekat dengan permukaan bumi. Semakin ke atas, volumenya semakin berkurang hingga tidak ada sama sekali. Oksigen dibutuhkan oleh manusia dalam proses bernapas.

Ayat di atas (khususnya kalimat yang dicetak tebal), menggambarkan tentang orang yang naik hingga jauh melewati lapisan-lapisan atmosfer bumi akan merasakan sesak dadanya karena sulit bernafas. Sebab semakin tinggi, jumlah oksigen terus berkurang. Di ruang hampa udara, seperti luar angkasa, tidak ada oksigen sama sekali, dan tidak ada kehidupan di sana.
Sumber : www.islampos.com
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar:

  1. Apa kata alquran soal bumi bulat dan ruang hampa di antariksa
    Nggak ada !!!
    Padahal katanya si nabi pernah naik ke langit.
    Tahunya cuma dada sesak napas karena berada di atas ketinggian (gunung).
    Yang kayak gitu sih gak perlu wahyu Allah, semua orang sebelum zaman Muahmmad lahir juga sudah pada tahu.

    Alkitab tahu bahwa bumi ini bulat, dan tidak disangga oleh tiang-tiang, jauh sebelum manusia mengetahuinya.

    Yesaya 40:22
    “Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi”.

    Ayub 26:7
    “Allah membentangkan utara di atas kekosongan, dan menggantungkan bumi pada kehampaan”.

    BalasHapus