Memahami Keistimewaan Ramadhan

Oleh: KH. Cholil Nafis, Lc., Ph D
Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI

BULAN suci Ramadhan disambut oleh umat Muslim dengan sangat antusias. Beragam ekspresi budaya sering ditampilkan untuk menyambut bulan suci umat Nabi Muhammad SAW ini.

Bulan yang disebut dengan beragam istilah, bulan penuh berkah, bulan pengampunan, bulan rahmat, dan seterusnya. Sehingga, sering kita mendengar, orang-orang yang tadinya hidup glamour dan hedon tiba-tiba menjadi ‘saleh’ saat Ramadhan. Memang tidak salah sebagai sebuah upaya untuk menjadi baik, tetapi menempatkan Ramadhan menjadi semacam waktu ‘cuci gudang dosa’ untuk kemudian berbuat dosa lagi sebagai hal yang salah.

Sebaliknya, kita bisa saksikan bagaimana ada sebagian orang yang berlebihan menyikapi datangnya bulan Ramadhan dengan cara-cara yang justru bertentangan dengan spirit Ramadhan. Fenomena yang sering terjadi ada sekelompok orang yang melakukan kekerasan kepada kelompok lain yang dianggap mengganggu kesucian Ramadhan, seperti perusakan tempat-tempat hiburan.

Yang sangat ironis adalah saat ada orang yang memaksa kepada warung-warung yang buka di siang hari Ramadhan agar menutupnya dengan cara kekerasan. Bukankah di sekeliling kita, dalam realitas kehidupan kita, ada orang-orang yang tidak ada kewajiban untuk berpuasa? Kaum nonmuslim jelas, para wanita haid, musafir, manula yang sudah tidak kuat lagi, dan lainnya.

Teringat apa yang pernah disampaikan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin bahwa pada saat bulan Ramadhan sepatutnya antara yang puasa dan yang tidak untuk saling menghormati. Orang yang berpuasa hendaknya bisa menjaga puasanya dengan tidak cepat marah karena melihat di sekelilingnya yang dianggap menodai puasanya. Seburuk apapun yang kita lihat saat kita berpuasa hendaknya kita tidak serta merta marah, apalagi merusak.

Demikian juga halnya yang tidak berpuasa harus bisa menahan diri untuk bisa memberikan respek, menyesuaikan dengan suasana orang yang kebanyakan berpuasa.



Di bulan baik ini memang Allah memberikan keistimewaan-keistimewaan bagi hamba-Nya yang mampu memanfaatkan peluang dengan baik. Namun, memahami keistimewaan Ramadhan harus pula dengan cara yang istimewa. Jangan sebaliknya, keistimewaan Ramadhan justru dipahami dengan cara ‘murahan’, mudah marah, mudah menuduh pihak lain, mudah menyalahkan, dan semacamnya.

Jika datangnya Ramadhan disikapi dengan cara yang ‘murah’ semacam itu, maka sinyalemen Rasulullah yang mengatakan begitu banyak orang yang berpuasa hanya merasakan haus dan lapar menjadi benar adanya.

Bagaimana kita memahami keistimewaan Ramadhan yang tepat?

Abu Bakar As-Syibli, seorang sufi fenomenal (wafat tahun 334H), pernah mengatakan bahwa janganlah kita menjadi ‘budak Ramadhan’. Menurutnya, penghambaan kita kepada Allah di bulan Ramadhan tidak boleh semata-mata karena datangnya bulan suci ini. Bulan ini memang oleh Allah SWT dijanjikan begitu banyak kelebihan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Namun jika dasar ibadah kita semata-mata hanya karena Ramadhan, maka kita seperti menjadi budak Ramadhan.

Ramadhan hanya sebuah media, waktu yang disediakan oleh Allah SWT untuk hamba-hambanya agar senantiasa meningkatkan kualitas spiritualnya. Namun, jika selepas Ramadhan tidak ada bekas kesalehannya, maka kita benar-benar menjadi budak Ramadhan. Ramadhan seperti dijadikan alasan utama menjadi baik untuk kemudian melupakan kebaikan-kebaikan itu di 11 bulan lainnya.

Memahami keistimewaan Ramadhan memang membutuhkan pemahaman yang utuh. Ramadhan adalah momentum meningkatkan amalan-amalan baik, namun tidak cukup berhenti di situ.

Tujuan Allah menyediakan bulan ini dengan segala keistimewaannya agar hamba-hamba-Nya terbangun motivasi yang kuat untuk kemudian dipertahankan dan ditingkatkan di bulan lainnya. Tentu tidak cukup dalam bentuk ritual-ritual fisik, tetapi sebuah pemaknaan yang mendalam bahwa bangkitnya spiritualitas secara simultan harus didasarkan pada kesadaran dasar bahwa manusia adalah makhluk spiritual.

Mahluk yang harus mampu meningkatkan kualitas spiritualnya jauh dari tarikan-tarikan nafsu setan dan kebinatangan. Fokuskan seluruh kebaikan yang kita lakukan hanya semata-mata karena Allah SWT.

Mari kita niatkan Ramadhan tahun ini sebagai starting point kita menjadi lebih baik segalanya. Semoga.
Sumber : tribunnews.com
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar: