Ini 5 Tahap dalam Menafsirkan Al Quran

“Demi langit dan yang datang pada malam hari, tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?
(yaitu) bintang yang cahayanya menembus,” (Surat ke 86 Ath-Thoriq, Ayat 1-3).

AYAT-ayat diatas adalah merupakan tingkat tafsir tertinggi yaitu tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an. Allah bertanya dan kemudian Allah jawab dan jelaskan sendiri.

Para ulama telah menjelaskan metode dan tahapan dalam menafsirkan Al-Qur’an sebagai berikut:

1. Tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, karena ayat-ayat Al-Qur’an saling melengkapi dan menjelaskan antara yang satu dengan yang lain dan Allah yang telah menurunkan Al-Qur’an lebih tahu tentang maksudnya seperti contoh diatas.

2. Tafsir Al-Qur’an dengan As-Sunnah atau sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam, karena As-Sunnah itu menjelaskan dan menjabar luaskan isi dan kandungan Al-Qur’an. Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam yang diturunkan kepadanya Al-Qur’an lebih paham tentang maksud Allah dalam firmanNya.

3. Tafsir Al-Qur’an dengan ucapan para Sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam terutama para pakar tafsir dari kalangan mereka, karena Al-Qur’an turun dengan bahasa mereka dan pada masa mereka, juga karena mereka adalah manusia paling sungguh-sungguh dalam mencari kebenaran serta selamat dari mengedepankan hawa nafsu sehingga mereka lebih layak untuk mendapat petunjuk dan taufik dalam menggapai kebenaran. Para Sahabat adalah murid-murid yang berguru langsung kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam.

4. Tafsir Al-Qur’an dengan ucapan Tabi’in yang langsung belajar tafsir kepada para Sahabat Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam, karena para Tabi’in adalah orang-orang terbaik setelah para Sahabat dan lebih selamat dari mengedepankan hawa nafsu juga lebih paham Al-Qur’an dibanding yang datang setelah mereka.

5. Tafsir Al-Qur’an dari sisi makna-makna syari’at dan bahasa.
Demikianlah metode tafsir Al-Qur’an yang benar dan wajib kita ikuti agar kita selamat dari penyelewengan dalam penafsiran dan agar Al-Qur’an tidak ditafsirkan seenaknya sesuai hawa nafsu dan kepentingan.

Diantara Kitab Tafsir yang mengikuti metode penafsiran seperti diatas adalah “Tafsirul Qur’anil ‘Adhim” atau lebih dikenal dengan “Tafsir Ibnu Katsir” karya Abul Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir Al-Qurasyi Ad-Dimasyqi rahimahullah [wafat 774 H atau 1373 M].

Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan “Ahlul Qur’an” [Keluarga Al-Qur’an] dan “Shohibul Qur’an” [Sahabat Al-Qur’an], yang “Hidup Di Naungan Al-Qur’an”, selalu membaca, memahami dan mengamalkannya sehingga kami menjadi sukses, bahagia dan selamat dunia akhirat, aamiin.
Sumber : islampos.com
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar