Hakikat Kematian dalam Al-Qur’an

Oleh: Mustafa Salim Alhiyed

Allah SWT. menjelaskan dalam Alquran, bahwa kematian itu bukanlah akhir dari segalanya. Kematian hanyalah kepunahan unsur-unsur material kita saja, seperti dinyatakan “Kullu man ‘alaiha fann”, setiap yang ada di muka bumi akan punah. Sementara unsur-unsur non materinya yang berupa ruh akan kembali kepada Allah SWT. untuk diberikan nikmat atau di-azab.

Dalam tubuh manusia ada tiga unsur utama yang tidak terdapat pada makhluk lainnya, yaitu unsur jasad, nyawa, dan ruh. Kedua unsur pertama akan musnah, lalu kembali kepada unsur dasar ciptaannya. Sementara satu unsur lainnya, yaitu ruh, akan kembali kepada Pemiliknya, Allah SWT. Ruh yang ada dalam cangkang jasad kita ini seringkali keluar kemudian kembali lagi ke tempatnya. Misalnya saat kita sedang tidur, maka ruh tersebut keluar dari tubuh untuk sementara waktu, berpetualang dalam bentuk mimpi dan menikmati berbagai pemandangan dunia dan alam ruh yang tidak terpikirkan sebelumnya (QS. Az-Zumar ayat 42).

Kemudian Allah SWT. mengembalikan lagi ruh tersebut ke tempatnya, sehingga manusia dapat melanjutkan hidup di pagi harinya. Namun jika Allah SWT. menahannya, maka ruh tersebut akan lepas dari cangkangnya kemudian kembali kepada Penciptanya. Itulah kematian yang tidak dapat diprediksi kapan datangnya.

Keadaan kita saat tidur itu sesungguhnya merupakan gambaran kecil mengenai alam barzakh. Saat kita di alam kubur, ruh kita berpetualang menjelajahi setiap sudut ciptaan, persis seperti mimpi dalam tidur. Namun sayangnya, saat itu kita tidak akan pernah bisa kembali ke alam dunia untuk memperbaiki amal perbuatan, atau untuk melakukan pertaubatan, dan seterusnya.

Menurut para ulama, kematian adalah awal dari kehidupan yang abadi, yaitu alam akhirat. Pada alam ini, secara massal manusia akan dikumpulkan di Mahsyar lalu dipertunjukkan kepada mereka semua amal perbuatan yang pernah mereka lakukan di dunia. Di sini Allah SWT. benar-benar menampakkan diri-Nya tanpa hijab untuk memenuhi janji-janji-Nya kepada hamba-Nya yang telah menggadaikan dunianya dengan kepedihan dan kesulitan beribadah, kemudian bersabar dan berserah diri kepada Allah. Dia akan membalas setiap hamba yang istikamah dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya dengan kenikmatan yang tiada tara.

Dengan demikian, maka kematian merupakan jalan untuk meraih nikmat-nikmat yang amat besar yang tidak pernah kita rasakan di dunia. Inilah kado terindah yang akan diterima oleh setiap mukmin yang ikhlas menerima kematian. Inilah yang dimaksud oleh Komarudin Hidayat dalam “Psikologi Kematian” nya sebagai proses yang penuh dengan kenikmatan dan kesenangan.

Kembalinya Jiwa yang Tenang

Setiap kematian memiliki sakaratul maut, yaitu saat naza’ (nyawa ditarik keluar tubuh) yang sangat menyakitkan. Pada saat sakaratul maut ini semua perbuatan kita selama di dunia ditentukan, apakah kita kembali kepada-Nya sebagai seorang mukmin atau kafir, sebagai hamba yang husnul khatimah atau suul khatimah. Semoga kita semua termasuk yang husnnul khatimah, amin. Pada detik-detik yang menegangkan, menakutkan, dan mengkhawatirkan ini, Allah SWT. melalui para malaikat-Nya memanggil lembut jiwa-jiwa yang tenang, yang diliputi dengan keimanan yang teguh.

“Yaa ayyattuhan nafsul mutmainnah irji’ii ilaa Rabbiki raadhiyatan martdhiyah fadkhulii  fii ibaadii wadkhulii jannatii”, wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku (yang Aku ridhai), dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr [89]: 28-30).

Setan dan pasukannya berkumpul di sekitar orang yang sedang sekarat untuk membujuk, menggelincirkan, menyesatkan, dan membuat ragu keyakinannya sehingga akhirnya ia menjadi pengikut mereka. Naudzubillah, semoga Allah SWT. melindungi kita dari fitnah besar ini. Namun, keimanan yang kuat dan amal saleh yang diterima oleh Allah SWT. akan menuntun dan menjaga kita pada detik-detik yang mencekam ini ke arah jalan-Nya yang lurus, tanpa keraguan sedikit pun.

Tidak hanya itu, bahkan para malaikat pun berjejal-jejal membuat pagar betis guna menyambut kehadiran jiwa-jiwa yang tenang, “Selamat datang wahai jiwa yang tenang. Kemarilah ikuti kami untuk menghadap Dzat Pencipta yang telah kau rindukan sejak kau berada di dunia. Nikmatilah segala kenikmatan surga yang belum pernah kau rasakan di dunia.”

Dari saking lembutnya panggilan ini saat naza’ atau sakaratul maut terjadi, ditambah lagi gambaran-gambaran mengenai posisi dan nasib kita setelah kematian, maka sakitnya sakaratul maut yang amat dahsyat itu seperti tidak terasa, menjadi biasa-biasa saja, tiada sakit yang menyayat-nyayat, sebab Allah SWT. telah membius hati setiap hamba yang diridhai-Nya dengan cinta dan kasih sayang-Nya. Demikianlah Alquran memberikan gambaran yang indah mengenai proses kematian ini bagi orang beriman yang men-Esakan Allah, kemudian keyakinannya itu tidak tergoyahkan sedikit pun oleh keraguan, khurafat, dan bentuk syirik lainnya.

Mempersiapkan Kematian

Sebagaimana sudah dijelaskan, betapa indahnya kematian bagi seorang mukmin, maka tugasnya mulai saat ini adalah bagaimana mempersiapkan kematian sehingga ia menjadi puncak persembahan kepada Allah dan master peace kita selama di dunia.

Kehidupan ibarat kertas kosong bagi seorang penulis. Manusia adalah sang penulis riwayat hidupya sendiri, terserah ia bagaimana menceritakan kisahnya selama di dunia ini, apakah sebagai seorang tokoh baik atau  jahat, apakah happy ending atau sad ending. Seorang tokoh baik akan diceritakan sebagai seorang pengabdi pada kehidupan, seorang pelayan bagi dirinya dan bagi orang lain.

Selain itu, ia sangat dekat dengan Tuhannya, sebagaimana ia sangat dekat dengan dirinya, manusia, alam, dan kehidupan. Tokoh baik seperti ini pastilah akan dicintai oleh para pembacanya dan memberikan inspirasi bagi kehidupan nyata. Sebaliknya, tokoh jahat senantiasa dekat dengan kejahatan, kebodohan, kegelapan, dan sikap-sikap yang mengundang kebencian dari orang lain. Tokoh seperti ini hidupnya akan berakhir dengan cacian dan penderitaan.

Kehidupan seorang mukmin senantiasa dipenuhi cerita-cerita kebaikan dan amal saleh. Setiap kebaikan yang muncul dari dalam dirinya mengalir begitu saja tanpa ada paksaan, sebab keimanannya yang teguh menuntunnya, memberinya arah dalam kehidupan, serta menjaganya dari hal-hal yang dimurkai Allah SWT. Dengan begitu, maka sesungguhnya hidup seorang mukmin senantiasa berada dalam penjagaan, pengawasan, arahan, dan kehendak dari Allah SWT..

Jika hidup Anda dalam bimbingan Allah, akankah Anda berpikir untuk berbuat buruk? Tentu saja tidak. Sebaliknya, kehidupan seorang kafir, orang tersesat, dan orang yang dimurkai senantiasa dalam pembiaran dan istidraj Allah. Dia membiarkan mereka hidup bermegah-megahan di dunia, seolah dunia adalah surga yang kekal dan mereka tidak akan pernah mati selamanya. Hidup mereka jauh dari kebaikan, bahkan mereka tidak mengerti baik dan buruk, apa batasannya, perbuatan-perbuatan apa saja yang dapat dikategorikan sebagai baik atau buruk. Mereka juga tidak mengenal nilai, norma, kebaikan yang bersifat umum, agama, dan bahkan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Ada sebagian masyarakat kita yang hidup dalam kondisi seperti ini, mereka betul-betul buta akan agama, yang mereka tahu adalah bagaimana melayani diri mereka sendiri dengan kenikmatan dan hidup hedonis. Nilai hidup tertinggi bagi mereka adalah hedonisme itu sendiri. Inilah sesungguhnya hidup yang dimurkai dan kelompok yang dibiarkan oleh Allah SWT. Naudzu billahi min dzalik.

Fatazawwaduu fainna khairazzaadit taqwa, maka bekalilah dirimu, sebab sebaik-baik bekal adalah takwa. Bekal terbaik manusia dalam perjalanan panjang di alam barzakh nanti adalah amal baik dan takwa selama hidup di dunia. Perbuatan takwa inilah yang kelak akan mendampingi kita dalam perjalanan yang sesungguhnya menuju Allah SWT. Jika seorang mukmin telah mempersiapkan bekal dirinya dengan takwa, begitu pula ia telah siapkan bekal bagi anak cucu yang akan ditinggalkanya, juga kebaikan bagi masyarakat dan bangsanya, maka ia akan optimis dalam menghadapi kematian, kapan pun dan di manapun. Ia akan meninggalkan dunia ini dengan bahagia.

Sebagai penutup dari pembahasan mengenai kematian ini, saya tegaskan bahwa kesuksesan dunia-akhirat itu hanya akan diraih dengan kebaikan-kebaikan. Kebaikan akan membuat kita tersenyum ketika malaikat maut menjemput. Sementara kejahatan sekecil apapun akan membuat kita menangis ketakutan saat malaikat datang dengan wajah yang garang. Semoga Allah SWT. melindungi kita semua dari kematian yang buruk. Amin. Wallahu A’lam.
Sumber : wahdatulummat.com
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

3 komentar:

  1. artikelnya sangat bermanfaat akhi, terimakasih

    BalasHapus
  2. sangat bermanfaat. izin utk disampaikan lagi, semoga jadi investasi akhirat

    BalasHapus