Syiar Qurban, Syiar Hak dan Kasih Sayang

Berqurban lebih utama daripada sedekah lainnya. Dengan berqurban dimungkinkan bagi mudhohiy (pequrban) mengikuti dua sunnah Rasulullah SAW sekaligus, sunnah menyembelih qurban dan sunnah bersedekah dari sebagian daging qurban ataupun keseluruhannya kepada kerabat dan tetangga atau siapa pun yang membutuhkan.

Berqurban berarti melaksanakan syiar Allah SWT (QS Al Kautsar: 2, QS Al Hajj: 32, 34, 36), menghidupkan sunnah nabi Ibrahim As (QS Ash Shaffat: 107), dan Rasulullah SAW, menjadi sarana bersyukur (QS Al Hajj: 34, QS Adh Dhuha: 11), meningkatkan hubungan antara muslim kaya dan fakir miskin (QS Al Hasyr: 7), dan menjadi sarana mendidik keluarga (QS At Taghabun: 14).

Sejak syiar qurban disyariatkan pada tahun kedua hijriyah, Rasulullah SAW semangat dalam melaksanakannya. Ibnu Umar RA menuturkan, “Selama sepuluh tahun tinggal di Madinah, Nabi SAW selalu menyembelih qurban”. (HR Ahmad dan Tirmidzi, sanadnya hasan).

Begitu pula dengan para sahabat, dalam sebuah riwayat Ibnu Abbas RA bercerita, “Dahulu kami pernah bersafar bersama Rasulullah SAW lalu tibalah hari raya Idul Adha, maka kami pun berserikat sepuluh orang untuk qurban seekor onta. Sedangkan untuk seekor sapi kami berserikat sebanyak tujuh orang”. (Shahih Sunan Ibnu Majah 2536)

Sejatinya syiar qurban merupakan potret perhatian Islam terhadap hak perhewanan. Di saat banyak yang berbicara tentang berbagai macam hak; hak asasi manusia, hak kesehatan, hak ketenagakerjaan, hak intelektual dan lainnya. Ternyata Islam sangat konsen terhadap hak perhewanan dan itu terlihat jelas setiap kali Idul Adha dan ayyam tasyrik.

Hak pertama bagi hewan qurban adalah untuk digemukkan. Hewan qurban yang gemuk lagi sehat menjadi syarat bahkan pilihan utama. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Yahya bin Sa’id Al Anshori menyebutkan, kami orang muslim Madinah terbiasa membeli hewan qurban kemudian kami gemukkan dan akan kami sembelih pada Dzulhijjah. Dengan adanya penggemukan hewan di situ akan ada tanggung jawab perawatan sekaligus melahirkan etos kerja muslim.

Lihatlah bagaimana Rasulullah SAW menghormati hak hewan qurban. Kasih sayang Rasulullah SAW terhadap hewan qurban. Setiap kali ingin berqurban beliau SAW akan membeli dua ekor kambing belang (putih hitam) yang besar, gemuk, dan bertanduk sebagai lambang hewan yang sehat.

Tiba saat waktu menyembelihnya beliau letakkan kaki kirinya di atas leher hewan qurban tersebut. Ini dilakukan semata-mata agar hewannya tenang, tidak berontak.

Demikian komentar Ibnu Hajar dalam Fathul Bari. Imam An Nawawi menambahkan, posisi ini pun akan memudahkan bagi penyembelih untuk memegang pisau dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya dapat memegang kepala hewan qurban dengan sempurna.

Kesakralan ibadah qurban semakin terasa saat Rasulullah SAW mengucapkan basmallah diiringi lantunan takbir serta doa memohon agar Allah SWT menerima persembahan qurbannya. Beliau sebutkan hewan pertama atas nama beliau dan keluarga kemudian hewan kedua atas nama seluruh umatnya yang setia. (HR Ibnu Majah)

Inilah sosok Rasulullah SAW, perkataan dan perbuatannya selaras. Dalam titahnya beliau sebutkan, “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan (totalitas kebaikan) dalam segala sesuatu. Jika kalian membunuh, hendaklah membunuh dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih, hendaklah menyembelih dengan cara yang baik. Hendaklah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya”. (HR Muslim).

Kasih sayang yang terakhir dari syiar qurban adalah diperbolehkan bagi mudhohiy untuk menyantap maksimal sepertiga qurbannya. Kemudian selebihnya dibagikan langsung atau disediakan makan bagi mereka yang meminta-minta dan orang yang tidak meminta.

Atau jika ingin menyedekahkan semuanya, maka sungguh luas nikmat Allah SWT baginya. Atau juga jika ingin makan bersama mereka maka akan membuka tabir antara yang kaya dan miskin. Terlebih ketika rakyat itu segan dengan pemimpin, maka dengan syiar qurban pemimpin bisa merakyat.

Ibadah qurban terasa indah nan mewah bilamana niat dan seluruh rangkaiannya semata-mata untuk taqarrub ilallah. Sebab hanya Allah SWT yang telah menundukkan unta-unta dan hewan qurban lainnya kepada kita, agar kita menjadi ahli syukur. Wallahu a’lam.

Sumber:www.dakwatuna.com
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar