Menghindari Fitnah

Lembaga Qiraati Pusat -Oleh Prof KH Achmad Satori Ismail*

Diriwayatkan dari abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Kelak akan datang suatu fitnah yang membuat bisu, tuli, dan buta. Barang siapa yang mendekatinya akan terjerumus ke dalamnya.” (Sunan Abu Daud juz IV hal 165).

Fitnah dalam Alquran memiliki beberapa makna. Fitnah berarti kufur (lihat
QS Ali Imran [3]: 7), juga bermakna syirik (lihat QS al-Baqarah [2]:9, Ali Imran [3]: 39) dan sering diartikan dengan ujian dan musibah.

Secara umum, konotasi fitnah dalam agama adalah segala ucapan atau perbuatan yang melemahkan seseorang atau bahkan menjauhkan dirinya dari ibadah atau mengamalkan islam.

Ada dua macam fitnah yang dihadapi setiap Muslim. Pertama, fitnah yang ditimbulkan akibat syubuhat (keraguan), seperti aliran sesat dan pemikiran yang bisa menjauhkan kita dari jalan Allah. Kedua, fitnah akibat syahwat, seperti fitnah dunia, harta, wanita, dan takhta.

Rasulullah SAW menggambarkan, “Akan datang pada manusia suatu masa di mana orang berpegang teguh pada agamanya bagaikan orang yang memegang bara api.” (HR At Tirmidzi). Kalau bara dipegang terus, akan terasa menyakitkan. Tapi, kalau dilepas, berarti akan murtad.

Ada empat kelompok yang bisa menjerumuskan kita ke dalam fitnah. Pertama, setan. Allah melukiskan godaan setan sebagai berikut, “Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka dan akan membangkitkan angan-angan kosong kepada mereka.” (QS an-Nisa’ [4]: 9).

Dalam hadis qudsi, Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku ciptakan manusia berperilaku lurus, kemudian digoda setan sehingga mengeluarkan mereka dari agama.” (lihat Musykilul Atsar karangan Ath Thohawi Juz VIII hal 364).

Di antara fitnah setan, yaitu menghiasi kebatilan, saat seorang wanita keluar, setan mengikutinya dan menghiasinya kepada manusia agar terdorong untuk mendekatinya dan  menggodanya sehingga terjadi kemaksiatan.

Kedua, orang-orang kafir. Mereka berusaha menebarkan berbagai keraguan terhadap Islam dan menggalakkan syahwat untuk menjerumuskan setiap Mukmin ke dalam neraka.

Oleh sebab itulah, kita disuruh berdoa, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir.” (QS al-Mumtahanah [60]: 5).

Ketiga, manusia itu sendiri bisa menjerumuskan dirinya ke dalam hal yang menimbulkan fitnah, seperti berada di tempat maksiat, berdekatan dengan orang yang dikenal ahli bid’ah, atau lainnya. Dalam diri kita terdapat penyakit, tapi juga ada obat di dalamnya.

“Bahkan, manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri.” ( QS al-Qiyamah [75]: 4). “Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka” (QS ash-Shaff [61]: 5).

Keempat, dunia. Demi dunia seseorang berani korupsi, durhaka kepada orang tua, memutuskan silaturahim, dan sebagainya. Semoga kita terhindar dari semua fitnah sehingga husnul khatimah. Aamiin.

Sumber:Republika
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar