Kembali Kepada Al-Qur’an

Di banyak tempat, di beberapa kota, di beberapa negara, mungkin sering kita temui para pemuda muslim yang sangat semangat mempelajari agama Islam ini. Mereka mendatangi ustadz-ustadz, atau mungkin mengundang ustadz-ustadz ke tempat mereka untuk bisa mempelajari agama ini. Satu minggu, dua minggu, satu bulan, dua bulan, satu tahun, dua tahun, secara terus menerus pengajian tersebut berjalan. Hasilnya tentu saja ada. Tapi hasilnya tentu saja tidak sempurna, karena kita memang makhluk yang tidak sempurna.
Salah satu contoh ketidaksempurnaan yang ada adalah, setelah bertahun-tahun ikut suatu pengajian, lantas hafal banyak hadits, terutama sekali hadits tentang perpecahan umat, juga hadits tentang bid’ah. Dua hadits ini, seolah-olah menjadi hadits wajib yang tidak boleh dilupakan sama sekali. Selain itu, juga hafal hadits-hadits tentang tata cara beribadah secara sangat detil sekali, juga hafal tentang hadits-hadits mengenai haramnya musik, haramnya isbal, haramnya politik, haramnya gambar dan lain sebagainya.

Sampai di sini, sebenarnya baik. Lantas, masalahnya di mana? Masalahnya, terletak pada pertanyaan berikut:

“Setelah ikut pengajian bertahun-tahun, apakah mereka sudah bisa memahami surat Al-Lail, Adh-Dhuhaa, Al-‘Aadiyaat, Asy-Syams dan surat lainnya, ataukah belum?”

Kalau sudah paham, berarti tidak ada masalah. Tapi kalau belum paham, berarti mungkin ada satu hal yang salah dalam kajian-kajian yang diikuti selama ini.

Cara dakwah Rasulullah

Kenabian Rasulullah itu dimulai dengan ayat Al-Qur’an, dan diakhiri juga dengan ayat Al-Qur’an. Dan setelah diangkat menjadi nabi dan rasul, yang Rasulullah lakukan adalah menyampaikan ayat-ayat Allah yang diwahyukan kepada beliau. Hadits-hadits, adalah penjelasan-penjelasan yang Rasulullah sampaikan ketika beliau menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an kepada para sahabatnya.

Jadi, inti dakwah Rasulullah adalah menyampaikan Al-Qur’an, dan mengajak orang untuk kembali kepada Al-Qur’an. Kalaupun ada hadits-hadits yang beliau sampaikan, maka itu adalah pelengkap dalam dakwah beliau. Bahkan, Rasulullah juga pernah melarang penulisan hadits-hadits karena beliau khawatir kalau hadits-hadits nantinya tercampur dengan Al-Qur’an. Jadi, sekali lagi, inti dakwah Rasulullah adalah Al-Qur’an, dan hadits-hadits adalah pelengkap.

Lalu, sekarang bagaimana dengan kita? Bagaimana seharusnya kita mempelajari agama Islam ini? Jawabannya, tentu saja dengan cara berguru pada ustadz-ustadz yang kita yakini ilmunya.

Akan tetapi, mari kita pastikan bahwa prioritasnya adalah belajar Al-Qur’an dulu, dan mari kita pastikan bahwa hadits-hadits ataupun perkataan-perkataan ulama adalah sebatas pelengkap dalam kajian tersebut. Jangan sampai kita malah sibuk mengambil hadits-hadits atau dari perkataan-perkataan ulama sebagai tema utama, lalu kita malah mengabaikan Al-Qur’an. Karena cara ini tidak dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya, dan karena cara seperti ini juga bisa mengakibatkan kita akhirnya ribut membahas hal-hal yang sebenarnya tidak dianggap penting oleh Al-Qur’an, tapi dipandang penting oleh (hanya) sebagian ulama saja. Misalnya tema tentang bid’ah di atas. Adakah ayat-ayat Al-Qur’an yang jelas-jelas membahas tema bid’ah ini? Jawabannya adalah tidak ada. Berarti Al-Qur’an tidak memandang hal ini sebagai hal yang penting. Lantas kenapa kita harus sibuk membahas hal tersebut?

Dulu, para sahabat Rasulullah belajar Islam dengan cara mempelajari lima sampai sepuluh ayat Al-Qur’an, mereka membacanya, menghafalnya, memahaminya, lalu mengamalkannya, dan mereka tidak mau mempelajari ayat-ayat berikutnya kalau mereka belum bisa mengamalkan lima sampai sepuluh ayat tersebut.
Seperti inilah cara para sahabat belajar Islam, dan seperti ini pula-lah cara Rasulullah mengajarkan Islam pada para sahabatnya.

Dan dengan cara begitu, insya Allah akan muncul satu generasi yang akan memprioritaskan hal-hal yang memang diprioritaskan oleh Al-Qur’an, dan tidak akan menyibukkan diri membahas hal-hal yang memang tidak dianggap penting oleh Al-Qur’an, dan akan menempatkan hadits-hadits sebagai pelengkap pemahaman mereka.

Jangan sampai kita menjadi generasi yang mengabaikan Al-Qur’an, dan malah menyibukkan diri dengan hal-hal yang sebenarnya sama sekali tidak pernah dibahas oleh Al-Qur’an.

Maka, kalau kita adalah orang-orang yang sudah terlanjur menyibukkan diri dengan hal-hal di luar Al-Qur’an, atau sudah bertahun-tahun ikut pengajian tapi sama sekali tidak tahu apa isi surat-surat di Juz 30 misalnya, maka marilah kita perbaiki arah kita.

Atau kalau kita menjumpai teman-teman kita sebagai orang-orang yang sibuk membahas hal-hal di luar Al-Qur’an, maka mari kita beri nasihat untuk kembali kepada Al-Qur’an, tentunya dengan cara nasihat yang baik.

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si-fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an ketika Al Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an itu sesuatu yang tidak diacuhkan”. Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.” (QS. Al-Furqaan, surat 25, ayat 27-31)


Sumber: http://www.dakwatuna.com/

Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar