Malas Baca Qur'an? Jangan-Jangan Al Qur'an yang Menjauhi Kita

Qiroati Pusat - "Bukan kita yg tidak punya waktu bertilawah, tetapi Al-Qur'an lah yang tidak ridho lagi dibaca sama kita." 

Kalimat bijak di atas mengalir dari lisan Ustadz Yusuf Mansur, seorang alim yang kita kenal sangat akrab dengan Al Qur'an.

Ketika membaca kalimat di atas, terasa diingatkan kembali agar tetap membaca Al Qur'an, karena jika terlalu lama lalai membiarkan diri ini tidak membaca Al Qur'an, bisa jadi Allah menguji kita dengan tidak ridhonya lagi Al Qur'an dibaca oleh kita. Naudzubillahi min dzaalik.

Masih dari Ustadz Yusuf Mansur, berikut nasihat sederhana yang membuat kita sadar kembali dari kelalaian membaca Al Qur'an.

Dikisahkan seseorang menemui sahabat karibnya, untuk bercerita tentang keadaan imannya.

"Aku sudah lama tidak membaca Al Qur'an satu hari satu juz." 

"Kembalilah dan baca Al Qur’an," jawab sahabatnya singkat.

"Entah kenapa aku sudah tidak punya semangat itu lagi." 

Masih dengan jawaban yang sama, "Kembalilah dan baca Al Qur’an." 

"Tapi aku tidak lagi  menikmatinya. Semacam beban buatku dan mulai merasa jenuh tiap hari tilawah 1 juz,  pekerjaanku banyak. Aku khawatir bila  aku paksakan, tilawahku jadi tidak ikhlas.

"Sahabatku, apakah menurutmu Ibumu mencintaimu?" 

"Pastilah," jawab seseorang itu dengan mantap.

"Syukurlah kalau begitu, sekarang coba  bayangkan, sehari setelah ibu kita melahirkan, dan kita menangis di tengah malam karena popok basah, kemudian dengan sangat  terpaksa bangun walau tubuhnya masih amat letih dan rasa sakit akibat mengecilnya rahim belum usai. Apakah  ibu kita sungguh-sungguh menikmati itu semua?" 

"Tidak," ujarnya sambil menggeleng dan kemudian menunduk

"Lalu, Apakah Ibu kita juga tidak ikhlas? Sahabatku, ukuran besarnya cinta bukan karena ibu kita menikmati mengganti popok dan harus menyusui kita di tengah malam, melainkan karena ibu kita relamelakukan itu semua meski dia tidak begitu menikmatinya. "

"Begitu juga dengan ibadah, ia tidak melulu didasari perasaan cinta atau suka, lebih dari itu yaitu komitmen."

Dalam ibadah ternyata perlu komitmen dan upaya untuk memaksakan diri, melawan rasa malas yang menyergap, bukannya tugas kita hanya taat? Suka atau tidak suka. 

Hanya komitmen yang membuat kita bisa istiqomah dalam beribadah.



Sumber: Annida Onlinez
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar