Idul Fitri sebagai Momentum Kembali kepada Konsepsi Qur'ani


Qiroati Pusat - Ramadhan telah berlalu dan kini kita memasuki bulan syawal, pada kalender hijiriah, segenap umat Islam di seluruh belahan dunia telah selesai melaksakan ibadah puasa, yang di akhiri dengan shalat sunat Idul Fitri. "Kembali kepada suci" sejatinya ada dua makna penting berkaitan dengan datangnya bulan ramadhan, yiatu perintah untuk berpuasa untuk menggapai derajat tertinggi di hadapan Tuhannya, yaitu taqwa. dan yang kedua adalah bulan ramadhan merupakan momentum penting bagi umat Islam kembali kepada Konsepsi Quran, menjadikan alquran sebagai pedoman hidup manusia, yang pada akhirnya akan menuntun ummat Islam mencapai derajat ketaqwaan yang sesungguhnya.

"Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat inggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al Baqarah: 185)

Jika kita menghitung mundur 1500 tahun pada masa kehidupan Rasululah, bulan ramadahan adalah titik awal konsep Islam di perkenalkan kepada seluruh masyarakat dunia, meskipun pada masa-masa sebelumnya melalui para nabi Allah konsep monoteisme telah di perkenalkan, ideologi Islam secara gamblang baru benar benar "disebut" pada masa Nabi Muhammad, melalui wahyu Al Qur'an. Yang sejatinya merupakan guide atau pedoman hidup bagi manusia seluruhnya. Innaddina 'indallahil islam, sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam.

Sebagai petunjuk, tentunya Al Qur'an sangat komprehensif, mulai dari masalah ketatanegaraan, sosial, hukum, hingga pada sub yang paling mendasar, seperti dalam aturan-aturan kehidupan berumah tangga, konsep Al Qur'an sebagai petunjuk hidup berdasarkan aturan Tuhan telah terbukti mengubah tatanan kehidupan manusia, misalnya penduduk makkah yang pada waktu itu merupakan masyarakat yang dilabeli sebagai "jahiliyah" masyarakat yang hanya tunduk kepada hawa nafsunya, berubah drastis semenjak di turunkan Al Qur'an melalui nabi mahammad, yang hingga kini kita mendapati Al Qur'an sebagai rahmat bagi manusia seluruhnya.

Menengok Literature sejarah peradaban muslim pada masa Rasullulah Muhammad SAW, membuktikan masyarakat yang hidup pada waktu itu benar benar memperoleh kemuliaan, ketenteraman, keadilan, kesejahteraan dalam arti yang sesungguhnya. Masyarakat muslim pada masa itu merupakan komunitas masyarakat yang dihargai diantara masyarakat lainnya. hal tersebut dapat terjadi lantaran masyarakat muslim pada masa itu benar- benar iklas menjalankan aturan-aturan yang ada dalam Al Qur'an.

Al Qur'an yang ada ditengah-tengan mereka bukan sekedar lembaran ayat-ayat yang dibaca saja sampai selesai seluruhnya namun tidak dipahami esensinya.

Masyarakat pada masa itu benar-benar menikmati hidup dengan Aquran, sejatinya ia telah menjadi nafas kehidupan mereka. Hal ini juga yang mendasari kejayaan ummat Islam pada masa itu dan lebih dari 100 abad ummat Islam berada pada masa kejayaannya.

Al Qur'an sebagai wahyu yang diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril kepada Muhammad benar-benar di laksanakan dan diamalakan sebagai petunjuk hidup dan jalan yang lurus, seperti yang telah ditulis pada paragram awal yaitu Surat Al-Baqarah Ayat 185, bahwa "diturunkannya permulaan Al Qur'an pada bulan ramadhan adalah, sebagai petunjuk bagi manusia, sebagai pembeda antara yang haq dan yang bathil, serta penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu.

Dan tentunya realitas ini berbanding terbalik dengan masa kehidupan kita sekarang, meskipun masyarakat Islam merupakan penduduk mayoritas. terlebih di Indonesia yang merupakan Negara dengan populasi muslim terbanyak didunia, tampaknya kita tidak mendapati hukum-hukum allah tertulis dalam Al Qur'an dilaksakan, kecuali pada sebagian Negara-negara muslim timur tengah, Dan kita perlu mengakui bahwa kedamaian, ketenteraman, kesejahteraan dalam arti yang yang sebenarnya belum sepenuhnya tercipta.

Sebagai masyarakat Indonesia yang mayoritas adalah muslim, sepatutnya kita berbangga, namun dalam melaksakan konsep-konsep yang ada pada Al Qur'an kita masih sangat minim. Al Qur'an sejatinya masih sebatas kepada kebanggaan bahwa ia adalah wahyu Allah yang dijaga keasilannya, namun tidak pada pelaksanaan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Sejatinya kita mencintai Al Qur'an tapi tidak siap dengan palaksaan hukum yang ditetapkan dalam Al Qur'an.

Padahal sebuah pernyataan dikemukakan oleh sahabat nabi, Ummar bin Khattab, Ingatlah bahwa nabi kalian pernah bersabda: Sesungguhnya allah mengangkat suatu kaum lantaran Al Qur'an ini, dan merendahkan kaum lainnya juga karena Al Qur'an (HR. Muslim Bab Fadlu man yakumu bil Quraani 4/252, No. 1353).

Kita sulit untuk membantah, hampir 3 dasawarsa ini, ialah setara dengan usia saya sekarang 27 tahun, mungkin bahkan lebih, tampaknya Rahmat Allah SWT telah di cabut dari muka bumi, khususnya juga adalah Indonesia yang merupakan Negara dengan populasi muslim terbanyak.

Sudah lebih dari setengah abad, Indonesia lepas dari tirani-tirani penerus abu jahal, abu lahab mode baru. Kita juga telah berganti beberapa kali pemimpin negeri, dimulai dari Soekarno, Soeharto, Susilo Bambang Yudhoyono hingga Jokowi. Namun Nampaknya tidak didapati Kesejahteraan yang di janjikan oleh Allah dalam Qur'an surat Al A'raf: 96.

Dan jika penduduk negeri beriman dan bertakwa kepada allah, sesusungguhnya kami (Allah) bukakan kepada mereka pintu-pintu berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustkan ayat-ayat kami, maka kami siksa mereka lantaran apa yang mereka kerjakan.

Allah memberikan petunjuk dan wawasan pemikiran untuk menuntun suatu masyarakat dalam Negara, untuk beriman dan tunduk kepada segala bentuk peraturan Allah, ialah yang terkandung dalam Al Qur'an, kemudian dijelaskan selanjutnya kepada mereka, akan dibukakan pintu-pintu rahmat dari langit dan bumi.

Hal ini memunculkan pertanyaan penting, mengapa kita belum sepenuhnya memperoleh, kedamaian, kesejahteraan, dan keadilan seperti yang terjadi pada masa rasulluloh memimpin negeri madinah, dan pada kekhalifahan yang dipimpin oleh sahabat-sahabat rasullulah?


Konsep Masyarakat Qurani

Imam Malik mengatakan Islam dewasa ini tidak akan berjaya manakala tidak mengikuti jejak para pendahulu mereka. Sebagaimana Al-Qur'an menegaskan (yang artinya), "Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah (|Al-Qur'an) dan jangan tercerai-berai…." (Ali Imran: 103). Demikian juga Rasulullah saw. memperingatkan umatnya, "Kutinggalkan untuk kalian dua pegangan, niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya: Al-Qur'an dan sunnahku." (HR Malik).

Dalam Al-Qur'an terdapat petunjuk-petunjuk bagaimana terbentuknya suatu masyarakat ideal dan praktik Nabi Muhammad saw. dengan masyarakat Qur'ani itu nyata sebagai realitas sosial dan berkelanjutan. Hal itu sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dan Ibnu Taimiyah bahwa Allah memberikan petunjuk bagi tercapainya masyarakat Qur'ani dengan turunnya surah An-Nur ayat 55.

"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang beriman dari kalian dan beramal saleh, bahwa dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaiman dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan aku, dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik."

Perintah allah untuk tetap bertpegang teguh dan menjalani nilai-nilai Al Qur'an terdepat pada pada Al Qur'an:

"Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani[208], karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya." (Ali Imran:79)

"Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka Apakah kamu tiada memahaminya?" (Al-Anbiya:10) 

"Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?" (Al-Qamar:17,22,32,40)

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunianya, sesungguhnya Allah maha pengasih lagi maha mensyukuri." (Al-fatir 29-30)

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas secara marfu:.

"Orang yang tidak mempunyai hafalan Al Quran sedikitpun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh." (Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi dari Ibnu Abbas (2914), ia berkata hadits ini hasan sahih).

Dari Abi Hurairah Radiyallahu ‘anhu. bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

Penghafal Al Qur'an akan datang pada hari kiamat, kemudian Al Qur'an akan berkata: Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al Qur'an kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu diapakaikan jubah karamah. Kemudian Al Qur'an memohon lagi: Wahai Tuhanku ridhailah dia, maka Allah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu: bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan." (Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi dan ia menilainya hadits hasan [2916], Ibnu Khuzaimah, al hakim, ia meninalinya hadits sahih, serta disetujui oleh Adz Dzahabi [1/533]). 

Dari beberapa petikan ayat Al Qur'an dan hadis diatas dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya kemulian dan rahmat allah akan diturunkan kepada kaum yang didalamnya beriman dan mengamalkan aturan-aturan yang ada dalam Al Qur'an.


Membentuk Pribadi Qurani Sejak Dini

Membentuk masyarakat Qurani sejatinya tidak dapat serta merta di wujudkan, ia merupakan program yang harus dilakukan melalui strategi yang komprehensif dan berkesinambungan, serta proses yang panjang, dan untuk dapat memahami dan menjalankan nilai-nilai yang ada dalam Al Qur'an, pengusaan terhadap pelafalan teks asli Al Qur'an menjadi wajib hukumnya. untuk itulah strategi pertama yang harus dilakukanan adalah pengenalan teks Al Qur'an kepada setiap individu muslim.

Untuk dapat membangun masyarakat qurani, langkah awal yang harus ditempuh adalah mengajarkan anak-anak dari usia dini dapat memahami teks Al Qur'an. Pemahaman atas teks Al Qur'an ini adalah langkah awal untuk dapat memahami nilai nilai yang ada dalam Al Qur'an. Tidak terbatas pada anak-anak usia dini, kita juga mengajak masyarakat meluangkan waktunya membaca Al Qur'an. Kita menyadari persoalan yang terjadi saat ini ditengah-tengah masyarakat kita kurang menyakini kekuatan dan berkah Al Qur'an, sehingga keinginan untuk memahami Al Qur'an sebagai pedoman hidup sehari-hari belumlah maksimal, kemudian di praktekan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagian kedua dari upaya menciptakan masyarakat qurani adalah menjadikan Al Qur'an sebagai sumber pegangan hidup bagi setiap umat muslim. Setelah penguasaan dan pemahaman dari membaca ayat-ayat Al Qur'an beserta pemahaman dari isi Al Qur'an telah dilakukan, maka langkah terakhir yang harus dilakukan adalah dengan mengaplikasikannya atau biasa dikatakan dengan mengamalkan ajaran tersebut.

Pengamalan ajaran ini dapat dilakukan mulai dari diri sendiri untuk kemudian diteruskan pada unit terkecil yang bersentuhan langsung dengan diri sendiri yaitu keluarga. Keluarga adalah tempat awal dimana seorang anak belajar menerapkan aturan-aturan serta membiasakan diri untuk berlaku sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan di dalam Al Qur'an.


Iman Sebagai Landasan Ideal Individu Muslim

Bagian ketiga dari sumbangsih kita terhadap pembentukan masyarakat Qurani adalah Memperkokoh Iman setiap individu muslim dimulai dari diri sendiri, Iman merupakan landasaan ideal dan spiritual dari sebuah masyarakat. Setiap mukmin harus menjadi auliya bagi mukmin lainnya. Maknanya adalah mereka saling mengasihi, menyayangi, tolong menolong dalam kebaikan, karena adanya kedekatan di antara mereka atas dasar kesamaan dalam beberapa hal yang sangat prinsip dalam kehidupan, yaitu akidah (tauhid), pedoman hidup (al-Qur'an dan sunnah), dan tujuan hidup (meraih keridhaan Allah, bahagia di dunia dan akhirat).

Persamaan dalam tiga unsur tersebut diharapkan akan memicu sinergi antara satu dengan lainnya. Kasih sayang (rahmah), empati (Ihtimam bilghair), tidak egoistis (ananiyah), akan menjadikan hidupan ini semakin berarti dan menjadi indah. Inilah sistim kehidupan yang dikehendaki Allah dan menjadi dambaan semua masyarakat dunia. Akan halnya hubungan Muslim dengan masyarakat non-Muslim, pola kehidupan yang diinginkan adalah rasa saling menghargai, menghormati, atas dasar prinsip kemanusiaan.


Hak, Kewajiban dan Kesadaran Hukum

Kemudian, setiap pribadi muslim harus memiliki pemahaman yang utuh terhadap Hak, Kewajiban dan Kesadaran hukum. Sesama mukmin handaklah terus melakukan amar ma'ruf, yaitu memerintahkan yang lain untuk berbuat kebaikan. Maksud kebaikan di sini adalah segala yang dipandang baik oleh agama dan akal. Mereka juga saling mencegah berbuat kemungkaran atau suatu perilaku yang dipandang jelek baik menurut agama maupun akal.


Al Qur'an dan Sunnah Nabi Menjadi Rujukan

Dalam Islam rujukan yang betul-betul kredibel adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dalam semua lini kehidupan, baik dalam soal akidah, mu'amalah, ibadah maupun akhlak. Taat kepada Allah berarti taat kepada ajaran yang ada dalam al-Qur'an. Sementara taat kepada rasul adalah taat kepada apa yang ada dalam hadis. Allah yang bersifat rahman dan rahim. Nabi Muhammad yang ditabalkan sebagai Rasul pembawa rahmat bagi alam semesta yang juga santun dan penyayang, akan mengarahkan manusia kepada pekerti yang menguntungkan bagi kehidupan mereka. Dengan adanya rujukan kehidupan berupa al-Qur'an dan sunnah Nabi, maka jalan kehidupan umat Islam menjadi jelas. Loyalitas mereka juga jelas.

Janji allah dalam Surat At-Taubah, bahwasanya allah akan memberikan Rahmat bagi orang-orang yang taat kepadaNya dan Rasulnya.

Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (at-Taubah: 71)

Apa yang disajikan diatas adalah tawaran al-Qur'an sebagai cara untuk membentuk masyarakat yang penuh dengan nilai dan norma. Pada masa Nabi dan Khulafa' Rasyidin, semua komponen masyarakat ikut mengawasi jalannya pemerintahan. Pada saat sahabat Umar dilantik menjadi Khalifah, seorang rakyatnya bersumpah bahwa jika Umar menyeleweng, maka dia akan meluruskannya dengan pedang.

Seperti yang telah dijabarkan diatas, bahwasanya proses untuk menciptakan masyarakat qurani adalah sebuah proses yang berkesinambungan dan tidak terputus. Karena semua hal terhubung dan menjadi mata rantai untuk saling menghubungkan semua pengetahuan tentang nilai-nilai yang ada pada Al Qur'an, dengan penerapannya pada kehidupan sehari-hari. Inilah sumbangsih sederhana yang dapat dilakukan Setiap individu muslim dengan terus berupaya mempraktekan nilai-nilai yang terkandung dalam Al Qur'an, sebagai pedoman hidup, dan sebagai petunjuk bagi manusia, seperti yang tersebut dalam surah Al-Baqarah:185.

Jika kita cermati, wahyu allah dalam Al Qur'an sesungguhnya saling berkaitan, manakala suatu masyarakat menjadikan Al Qur'an sebagai petunjuk hidup (way of life), Allah akan memberikan pahala berupa rahmat, yang dibukakkan dari pintu-pintu langit dan bumi, berupa keberkahan, kesejahteraan dan rasa aman, yang tersebut dalam surat Al-A'raf: 96, dan Allah tidak pernah mengingkari janjinya.



Sumber: Kompasiana Junianto Bara
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar: