Mengambil Intisari dari Karunia Allah terhadap Kaum Quraisy

Qiroati Pusat - Dalam Surat Al-Quraisy, surat ke-106 dalam Al-Qur’an, tergolong dalam kategori surat Makkiah, dan tentu saja kita bersama telah menghafalnya, Allah memberikan gambaran bagaimana religiusitas menjadi bekal kita agar tidak hanya struggle dalam hidup, namun juga establish dan sustain.

Dalam Tafsir Al-Azhar oleh salah satu guru besar kita, Buya Hamka, religiusitas di sana ditegaskan sebagai rasa syukur yang teramat dalam, yang seharusnya diimplikasikan oleh Kaum Quraisy, atas segala nikmat Allah yang mewah.

Huruf jaar majrur dalam awal surat, menjadikan Surat Al-Quraisy ini memiliki korelasi dengan surat sebelumnya, yakni Surat Al-Fiil, surat ke-105. Terdapat pertalian di akhir Surat Al-fiil yakni "Mereka (ashabul fiil) dijadikan seperti daun kayu yang dimakan ulat", dengan awal Surat Al-Quraisy yakni "Lantaran untuk melindungi kaum Quraisy".

Di ayat selanjutnya, dapat kita kaji pengertiannya bersama, yakni Allah melindungi perjalanan Kaum Quraisy, baik pada musim dingin, juga pada musim panas. Kita kemudian mendapati dalam tafsirannya, bahwa perjalanan tersebut ialah iktiar Kaum Quraisy, struggle dalam menjalani hidup. Perjalanan tersebut adalah perjalanan dagang, di mana Kaum Quraisy melakukan dua caravan dalam berdagang. Karena negeri asalnya (Makkah) terletak di tengah, maka Kaum Quraisy adalah kaum saudagar perantara, di mana caravan akan terbagi ke dua pintu perniagaan, yakni Syam di Utara, dan Yaman di Selatan. Dan Allah melindungi mekanisme tersebut.

Dan selanjutnya sampai pada tuntutan akan kewajiban bersyukur, dengan "hendaklah menyembah pada Tuhan Rumah ini". Rumah yang dimaksud adalah Ka’bah, yang terletak di Makkah, yang kemudian menjadikan Kaum Quraisy sebagai jiran (tetangga) dari Ka’bah. Tuhan dari Rumah tersebut, Allah, "yang telah memberi makan mereka dari kelaparan dan mengamankan mereka dari ketakutan", selayaknya intisari dari dua ayat terakhir.

Selain menjamin perlindungan atas mekanisme dagang tersebut, Allah juga mentakdirkan Kaum Quraisy sebagai jiran-nya Ka’bah. Maka berkat adanya Rumah Allah tersebut, setiap tahun tidak putus manusia untuk mengunjunginya. Makkah menjadi kawasan terbuka, karenanya makanan melimpah ruah dan kelaparan dapat tereduksi. Tidak cukup itu, sejak zaman Nabi Ibrahim, Tanah Makkah ditetapkan sebagai daerah terlarang, yang memiliki implikasi bebas dari peperangan, perburuan hingga perusakan tumbuh-tumbuhan. Rumah Allah tak hanya hadirkan dampak ketahanan, namun juga dampak keamanan.

Religiusitas menjadi syarat Kaum Quraisy dapat struggle dalam bertahan hidup, dengan berdagang, juga dapat establish dan sustain dengan perlindungan-Nya, baik terhadap gempuran ashaabul fiil, hingga keberadaan Rumah Allah yang menjadi lambang keamanan. Karenanya dalam Tafsir Al-Azhar disebut, telah selayaknya Kaum Quraisy bersyukur atas segala rahmat Allah dengan tunduk patuh ketentuan Allah, melalui risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad salallahu ‘alaihi wasallam.

Pun sama dengan kita, religiusitas menjadi prasyarat agar Allah menjadikan kita struggle, establish dan sustain dalam hidup yang terjal ini. Dalam setiap iktiar kita, tentu teriring pengharapan kepada Allah akan kecukupan dalam hidup. Pengharapan akan jaminan bahwa "tidak akan mati seseorang, sebelum ajalnya sempurna, dan rezekinya telah terpenuhi", seperti sabda Kanjeng Nabi Muhammad salaLlahu ‘alaihi wasallam. Maka religiusitas tersebut dimaktubkan dalam kalimat selanjutnya dalam sabda yang sama, "maka bertaqwalah kepada Allah dan baguskanlah cara mencari rizki".

Kehidupan yang terjal ini juga menjadikan kita nir-jaminan atas keamanan dan keselamatan. Dan bukan berbagai asuransi yang akan menenangkan kita, tentu perlindungan-Nya adalah asuransi di atas semua asuransi. Maka perlindungan tersebut melingkar dalam siklus, seperti halnya kasuistik Kaum Quraisy. Allah memberikan keselamatan atas gempuran ashabul fiil, agar kemudian Kaum Quraisy memuliakan Ka’bah, dengan menyembah satu-satunya Sesembahan, yakni Allah, dan menegasikan berbagai hal yang sebelumnya diaggap sesembahan. Kita pun sama, menyembah Allah yang telah memberi kita selamat adalah satu-satunya jalan selamat, dan menuhankan yang lain menjadikan kiamat kita lebih dekat.


Sumber: Facebook Miqdad Haqqony
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar