Ashabul Kahfi dan Teori Relativitas dalam Al Quran


Qiroati Pusat – Siapa tak kenal Einstein? Ilmuwan ini terkenal dengan teori relativitasnya. Dan teori ini bayak dikenalkan pada para pelajar di berbagai penjuru negara di dunia. Siapa sangka bahwa teori  ini telah ada dalam Al Quran, jauh sebelum dicetuskan oleh Albert Einstein, seorang ahli fisika yang mengemukakan teori relativitas modern pada tahun 1905.

Teori ini dibuktikan dalam firman Allah SWT: "Dan demikianlah Kami bangunkan mereka, agar diantara mereka saling bertanya. Salah seorang di antara mereka berkata, 'Sudah berapa lama kamu berada (di sini)?' Mereka menjawab, 'Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.' Berkata (yang lain),' Tuhanmu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini)." (QS. Al-Kahfi: 19)

"Dan mereka tinggal di dalam gua selama tiga ratus tahun ditambah sembilan tahun." (QS. Al-Kahfi:25)

Maha benar Allah dengan segala firmannya. Al Quran yang diturunkan 15 abad lalu telah menceritakan gejala alam yang disebut dilatasi waktu, perpanjangan waktu, atau relativitas pada sejumlah pemuda yang bersembunyi dalam sebuah gua, sebagaimana tercantum dalam Surat Al-Kahfi.

Apakah dilatasi waktu?

Para ahli berkata, untuk memahami dilatasi, umpamakan kita edang berhadapan dengan apa dan siapa. Dalam situasi yang berbeda, waktu akan berjalan berbeda pula. Misalnya, ketika seseorang duduk bersama dengan kekasihnya, waktu terasa menyenangkan sehingga waktu berjalan sangat cepat. Satu jam terasa satu menit. Berbeda  dengan ketika seorang penjinak bom berhadapan dengan teroris. Ia harus menjinakkan bom yang dipasang oleh sekawanan teroris tersebut. Detik-detik waktu terasa menegangkan dan berjalan sangat lambat. Dua menit menjinakkan bom akan terasa dua jam. Ini yang diterangkan secara sederhana oleh para ahli dalam mendefinisikan dilatasi waktu.

Definisi secara ilmiah disampaikan oleh Einstein. Einstein memiliki rumus bahwa waktu, lintasan, atau massa benda yang biasa kita ukur dan timbang, nilainya tidak tetap tetapi berubah-ubah. Bisa lebih besar dan kecil. Menurut Einstein, tidak ada nilai mutlak untuk besaran-besaran di dunia ini seperti massa (berat), panjang, volume, dan sebagainya. Misalnya massa benda, massa sebuah benda di bumi tentu berbeda jika ditimbang di luar angkasa. Kecuali kecepatan cahaya. Menurut Einstein, kecepatan cahaya adalah besaran yang nilainya mutlak. Besar kecepatan cahaya (dihitung dan diteliti oleh Michelson dan Morley), yaitu sekitar 300.000 km/detik. Kecepatan cahaya tidak bergantung pada kecepatan sumbernya maupun pengamatnya. Kecepatan cahaya tetap-bagaimanapun sumber dan pengamatnya. Misalnya, ada dua acuan (hal/benda) yang bergerak satu sama lain dengan kecepatan berbeda, maka pengamat yang bergerak dengan kecepatan yang lebih kecil akan mengalami waktu yang lebih lama dibandingkan dengan pengamat kedua yang lebih cepat. Inilah dilatasi waktu dan Einstein memiliki formulasi atau rumus matematika untuk dilatasi waktu.

Dalam kehidupan sehari-hari, gejala dilatasi waktu tidak bisa kita amati. Hal tersebut karena kita bergerak dengan kecepatan yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan kecepatan cahaya. Pesawat supersonik saja hanya 3 atau 4 kali kecepatan suara, yatu 1 km/detik.Untuk mengamati gejala dilatasi waktu dengan baik diperlukan pengamat yang mempunyai kecepatan acuan U, yang mendekati kecepatan cahaya C yang 300.000 km/detik.

Untuk itu diadakan penelitian yang dilakukan oleh Frisch dan Smith menggunakan usia partikel elementer, yang disebut muon. Mereka berdua membandingkan usia muon tersebut. Membandingkan antara muon yang relatif diam dengan muon yang jatuh ke bumi. dengan kecepatan sekitar 0,994 kali kecepatan cahaya.

Ternyata usia muon di bumi (muon yang relatif diam) 9 kali lebih tua dibandingkan dengan muon yang bergerak dengan kecepatan 0,994 kali kecepatan cahaya tersebut. Untuk lebih mudah memahami ini, para ahli pun membuat contoh yang mudah untuk dipahami, yaitu kecepatan antariksa kita dapat mencapai muon tersebut, yaitu 0,994 kali kecepatan cahaya. Maka, satu tahun bagi astronout yang berada di antariksa (pesawat) berarti sama dengan 9 tahun kita di bumi.

Jika astronout telah menempuh perjalanan selama 10 tahun di antariksa, kita di bumi telah lebih tua 90 tahun. Hal tersebut karena perbedaan kecepatan acuan tersebut. Apabila pesawat antariksa itu mencapai 0,9999999999166 kali kecepatan cahaya, satu hari bagi astronout di pesawat sama dengan 300 tahun bagi kita di bumi. Itu imbasnya.

Adanya relativitas suatu besaran dan kemutlakan ukuran kecepatan cahaya menjadikan waktu bisa lambat atau cepat. Meskipun dalam perhitungan kita, sama. Contoh-contoh tadi membuktikan bahwa dalam waktu (perhitungan kita) sama, bisa terjadi perbedaan usia seperti 10 tahun: 90 tahun. 1 hari: 300 tahun.

Al Quran telah mengukir ilmu ini dalam Surat Al-Kahfi.  Dalam surah tersebut dikisahkan 3 pemuda saleh yang menghindari kemusyrikan umatnya waktu itu. Mereka bersembunyi dalam gua, berdoa dan bermunajat kepada Rabb-nya.

"Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami." (QS Al-Kahfi: 10)

Lalu Allah memberikan rahmat-Nya.

"Maka Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu selama beberapa tahun. Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah diantara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tiggal ( di dalam gua itu)." (QS. Al-Kahfi: 11-12)

Ternyata Allah "menidurkan" mereka. Tubuh dan pikiran mereka tidak berubah, tetapi lingkungan mereka yang berubah.

"Dan demikianlah Kami bangunkan mereka, agar di antara mereka  saling bertanya. Salah seorang di antara mereka berkata, 'Sudah berapa lama kamu berada (di sini)?" Mereka menjawab, ‘Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.' Berkata (yang lain), Tuhanmu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini)." (QS. Al-Kahfi:19)

"Dan mereka tinggal di dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun." (QS. Al-Kahfi:25)

Mereka tinggal dalam gua selama 300 tahun dalam hitungan waktu matahari (syamsiah), 300 ditambah 9 tahun (309) dalam tahun qamariah (perhitungan tahun berdasarkan peredaran bulan). Inilah kebesaran Allah.

Mungkinkah Allah mempercepat mereka bertiga (Ashabul Kahfi) dalam gua sampai mencapai 0,999999999166 kali kecepatan cahaya sehingga terjadi gejala dilatasi waktu? Satu hari, dalam perhitungan mereka, sama dengan 300 tahun perhitungan manusia di sekeliling mereka. Padahal, dalam teori, kondisi percepatan yang dialami Ashabul Kahfi adalah sesuatu yang tidak mungkin untuk tubuh manusia karena percepatan secepat itu berarti bentuk bendanya berwujud gas atau lebih ringan lagi.

Inilah gejala relativitas. Sebuah ketentuan yang menyatakan bahwa segala sesuatu di duni ini adalah relatif, kecuali kecepatan cahaya. Dan teori yang baru ditemukan di era modern ini ternyata sudah tercatat dalam Al Quran. Bahkan, sumber lain menyatakan teori relativitas juga telah ditemukan oleh ilmuwan muslim al-Kindi jauh sebelum Einstein. Mahabesar Allah. Mahasuci Allah dengan segala firman-Nya.




[annida-online.com]
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar