Menghafal Qur'an Sejak Era Sahabat


Qiroati Pusat – Di Tanah Arab, budaya menghafal lebih diagungkan ketimbang menulis.

Allah berfirman, "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami yang benar-benar memeliharanya," surah al-Hijr ayat 9.

Allah menjamin terpeliharanya Al Qur'an hingga kini dan hingga hari kiamat nanti melalui para hafiz dan hafizah. Dari ingatan merekalah ayat-ayat Allah terjaga kemurniannya. Merekalah orang-orang terpilih yang mendapat tugas sebagai pemelihara kitab suci.

Menjaga Al Qur'an dengan menghafal sebetulnya telah diterapkan oleh Rasulullah. Nabi Muhammad merupakan seorang yang ummi.

Acapkali Jibril menyampaikan wahyu dari langit, Rasulullah akan segera menghafalnya. Hafalan Rasulullah pun mendapat jaminan dari Allah sehingga tak akan pernah luput sehuruf pun.

"Janganlah kamu menggerakan lidahmu untuk (membaca) Al Qur'an karena hendak cepat-cepat menguasainya, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya," firman Allah dalam surah al-Qiyamah ayat 16--17.

Gaya menghafal ini pun kemudian diteruskan oleh para sahabat. Di tanah Arab, budaya menghafal memang lebih diagungkan ketimbang budaya menulis.

Sejak era kuno, masyarakat Arab terbiasa menghafal syair-syair indah. Dengan budaya seperti itu, daya hafal bangsa Arab pun lebih tajam dibanding bangsa lain.

Alhasil, meski Rasulullah seringkali meminta sahabat untuk menuliskan ayat Allah, tulisan tak menjadi sumber utama.

Daya ingat para sahabatlah yang menjadi pemelihara Al Qur'an. Hampir semua sahabat Rasulullah menghafal ayat Qur'an dengan teliti dan pemahaman yang sempurna.

Namun, setelah wafatnya Rasulullah, banyak peperangan terjadi. Para sahabat gugur satu per satu di medan perang.

Hingga di era kekhalifahan Usman bin Affan, jumlah para penghafal Al Qur'an benar-benar tinggal hitungan jari, terutama setelah perang Yamamah. Maka, sejak itulah Al Qur'an mulai dikumpulkan dan dibukukan oleh Khalifah Usman.

Proses pengumpulan Al Qur'an ini tentu tidak mudah. Khalifah Usman mencari sahabat Rasulullah yang hafiz dan kuat hafalannya. Zaid bin Tsabitlah yang kemudian terpilih memimpin proyek mulia tersebut.

Sebetulnya, pengumpulan Al Qur'an telah digalakkan sejak era kekhalifahan Abu Bakar. Zaid bin Tsabit dipanggil untuk menghimpun Al Qur'an dengan mengumpulkan para hafiz.

"Demi Allah, seandainya mereka memintaku untuk memindahkan gunung dari tempatnya, itu lebih mudah bagiku daripada menghimpun Al Qur'an," ujar Zaid saat diamanahi tugas tersebut.

Maka ditulislah beberapa mushaf Al Qur'an. Di masa Khalifah Usman, mushaf-mushaf tersebut baru dikumpulkan. Lagi-lagi, Zaid yang mendapat tugas itu kembali.

Di kalangan sahabat dan tabi'in, Zaid memang terkenal sebagai sekretaris Rasulullah. Saat Nabi Muhammad masih hidup, Zaid banyak menuliskan surat kenegaraan hingga kalamullah.

Maka tidak mengherankan jika dia yang mendapat amanah tersebut. Belum lagi keutamaannya yang sangat dekat dengan Rasulullah dan mengemban tugas sebagai hafizul Qur'an.

Bahkan, saat pemerintahan Islam berdiri di Madinah, Tsabit pula yang menjadi ketua tim qari. "Para sahabat nabi tahu betul kalau keilmuan Zaid bin Tsabit sangat menonjol," ujar Ibnu Abbas.

Demikian juga Ibnu Abbas. Dia juga merupakan seorang penghafal Qur'an. Ia bahkan telah menghafal seluruh Qur'an di usia yang sangat belia mengingat ia telah menjadi pengikut setia Rasulullah sejak masih kanak-kanak.

Hanya saja, Ibnu Abbas lebih ternama dengan banyaknya hadis Rasul yang ia riwayatkan. Alhasil, dia pun memiliki kemampuan tinggi dalam menafsirkan ayat Qur'an. Ibnu Mas'ud bahkan menyebut Ibnu Abbas sebagai ahli tafsir terbaik.

Terdapat pula nama Ubai Bin Ka'ab. Selain Zaid bin Tsabit, Ubai pun pernah menjadi sekretaris Rasulullah. Bersama Zaid, Ubai sangat rajin menulis kalamullah.

Zaid dan Ubai berada di bawah pengawasan Rasulullah saat menulis Qur'an. Umar bin Khattab bahkan menyebut Ubai sebagai qari terbaik. Khalifah Umar juga berkata, "Barang siapa yang hendak menanyakan tentang Al Qur'an, datanglah ke Ubai."

Masih banyak nama-nama sahabat Rasulullah yang merupakan hafizul Qur'an. Para Khulafaur Rasyidin pun merupakan para penghafal Al Qur'an. Sebagaimana disebut sebelumnya, hampir seluruh sahabat Rasulullah merupakan penghafal Al Qur'an.

Dari para sahabat, tradisi menghafal Al Qur'an terus diwariskan. Bahkan, ketika Al Qur'an telah ditulis dan dikumpulkan, tradisi tersebut tak pernah sirna.

Tak hanya di tanah Arab, Muslimin di negara lain pun berusaha bisa menghafal Al Qur'an mengingat keutamaan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Dari semangat menghafal Al Qur'an inilah Allah menjaga kalam-Nya terus murni hingga hari akhir.



[republika.co.id]
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar