Perbedaan Al Qur’an dan Hadits Qudsi


Qiroati Pusat – Qudsi, dari kata al-qudus, artinya mulia dan agung karena kesuciannya. Maka maksud dari qudsi secara bahasa maknanya Allah Ta'ala mensucikannya. Adapun makna hadits qudsi secara istilah, dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin,

Hadits yang diriwayatkan oleh Nabi SAW dari Allah Ta'ala, dan disebut juga hadits rabbani dan hadits ilahi.

Lafal dan Makna Hadits Qudsi dari Allah?

Namun para ulama berbeda pendapat mengenai lafal dan makna hadits Qudsi, apakah dinisbatkan kepada Allah. Sebagian ulama berpendapat bahwa maknanya dari Allah sedangkan lafalnya dari Nabi SAW. Ini pendapat yang dikuatkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Beliau mengatakan,

Hadits qudsi maknanya dinisbatkan kepada Allah namun tidak dengan lafalnya. Oleh karena itu membaca lafalnya tidak dianggap sebagai ibadah dan tidak dibaca dalam shalat.
Hadits qudsi adalah hadits yang diriwayatkan oleh Nabi SAW, dianggap sebagai firman Allah, yang dinukil oleh Rasulullah namun dengan lafal dari beliau. Ini nampak jelas dari apa yang dinukil pada akhir sanadnya. Biasanya seperti ini, "Rasulullah SAW bersabda, "Allah Ta'ala berfirman…" atau "Rasulullah SAW bersabda, dari yang ia riwayatkan dari Rabb-nya ‘Azza wa Jalla..."

Sebagian ulama berpendapat bahwa lafal dan maknanya dari Allah, mereka mengatakan tentang hadits qudsi,

Hadits yang bersambung sanadnya hingga Allah Ta'ala, dan ia dianggap sebagai firman Allah, namun tidak dimaksudkan untuk memiliki i'jaz (keistimewaan seperti Al Qur'an).

Namun perbedaan dalam masalah ini sama sekali tidak mengurangi keabsahan hadits qudsi sebagai dalil dan sumber hukum agama, selama ia adalah hadits yang memenuhi persyaratan hadits yang maqbul.

Bentuk dan Contoh Hadits Qudsi

Hadits qudsi ada dua bentuk.

Pertama, hadits yang di akhir sanadnya disebutkan, "Rasulullah SAW bersabda, dari yang ia riwayatkan dari Rabb-nya ‘Azza Wa Jalla..."

Kedua, hadits yang di akhir sanadnya disebutkan, "Rasulullah SAW bersabda, ‘Allah Ta'ala berfirman' ..." atau semisalnya.

Di antara contoh hadits qudsi adalah hadits berikut.

Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, Allah Ta'ala berfirman, "Aku mengikuti sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Dan Aku ada bersamanya jika ia senantiasa ingat Aku. Jika ia ingat Aku sendirian, maka Aku pun akan ingat ia sendirian. Jika ia ingat Aku dalam sekumpulan orang, Aku akan ingat dia dalam kumpulan yang lebih baik dari itu (Malaikat). Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta, jika ia mendekat kepadaku sehasta, Aku akan mendekat kepadanya satu depa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya berlari. (HR. Bukhari no.7405).


Perbedaan Hadits Qudsi dengan Al Qur'an


Hadits qudsi berbeda dengan Al Qur'an pada beberapa poin berikut ini.

  1. Al Qur'an adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW beserta lafalnya, yang Allah menantang bangsa Arab untuk membuat semisalnya namun mereka tidak mampu untuk mendatangkan yang semisal Al Qur'an. Atau bahkan hanya sepuluh ayat, atau bahkan hanya satu ayat yang semisal Al Qur'an. Bahkan tantangan tersebut berlaku hingga sekarang dan ini adalah mukjizat Al Qur'an yang berlaku hingga akhir zaman. Sedangkan pada hadits qudsi, tidak ada tantangan demikian.
  2. Al Qur'an dinisbatkan kepada Allah secara mutlak. Maka ketika menukil Al Qur'an kita mengatakan, "Allah berfirman...." Sedangkan hadits qudsi, sebagaimana sudah disebutkan, terkadang dalam bentuk penyandaran kepada Allah, yaitu ketika disebutkan, "Rasulullah SAW bersabda, Allah Ta'ala berfirman...." Dan terkarang dalam bentuk penyandaran kepada Rasulullah SAW, ketika disebutkan, "Rasulullah SAW bersabda, dari yang ia riwayatkan dari Rabb-nya ‘Azza Wa Jalla...."
  3. Al Qur'an seluruhnya dinukil secara mutawatir (periwayatan dari rawi yang banyak hingga bernilai keyakinan). Sehingga ia memiliki qath'iyyatuts tsubut (validitas yang pasti). Adapun hadits qudsi pada umumnya merupakan khabar ahad, yang ia memiliki zhanniyatuts tsubut (validitas yang tingkat keyakinannya berupa sangkaan kuat). Dan hadits qudsi itu terkadang shahih, terkadang hasan, dan terkadang lemah.
  4. Al Qur'an itu makna dan lafalnya dari Allah. Dan ia adalah wahyu Allah baik dalam lafal dan maknanya. Sedangkan hadits qudsi maknanya dari Allah dan lafalnya dari Rasulullah SAW menurut pendapat yang shahih. Dan ia adalah wahyu secara maknanya, bukan lafalnya. Oleh karena itu boleh meriwayatkan hadits qudsi secara makna menurut jumhur ulama ahli hadits.
  5. Membaca Al Qur'an adalah aktifitas ta'abbud (ibadah). Dan yang disinggung dalam dalil-dalil keutamaan membaca kalamullah adalah membaca Al Qur'an. Sebagaimana hadits berikut.

    "Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur'an, maka baginya satu kebaikan. dan satu kebaikan dilipat-gandakan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lam miim itu satu huruf, tapi alim satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf" (HR. At Tirmidzi 2910, ia berkata, "hasan shahih gharib dari jalan ini").

    Adapun membaca hadits qudsi bukan aktifitas ta'abbud dan tidak boleh dibaca pada qira'ah dalam shalat. Namun orang yang membaca hadits qudsi mendapat pahala secara umum (tergantung niatnya, pent.) dan bukan pahala sepuluh kali lipat per huruf seperti yang disebutkan dalam hadits.


Demikian sedikit faidah mengenai hadits qudsi. Semoga bermanfaat dan menjadi tambahan ilmu bagi kita semua.





[muslim.or.id]
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar