Cinta dan Ketulusan sebagai Bekal Menghafal Qur'an


Qiroati Pusat – D. M. Makhyaruddin menekankan akan pentingnya cinta dan ketulusan dalam menghafal Alquran. Menurutnya, cinta merupakan kunci dalam segala hal agar sesuatu bisa maksimal. Hal ini karena cinta akan membawa seseorang kepada keyakinan, pengagungan, perjuangan, pengorbanan, kepatuhan, dan usaha maksimal tanpa pamrih. Sehingga, dengan cinta, segala sesuatu yang berat bisa menjadi ringan (hal. 27).

Dalam menghafal Alquran juga demikian. Kecintaan kepada al-Quran akan mendorong seseorang agar bisa melakukan segala upaya dalam menghafal. Cinta akan membawa seseorang pada keseriusan dalam menghafalkan Alquran. Keseriusan ini akan membawa kemudahan. Sebab, Alquran telah dimudahkan oleh Allah untuk dihafalkan dan dihayati (hal. 31).

Kecintaan kepada Alquran akan menuntun seseorang kepada ketulusan. Ketulusan yang dimaksud di sini adalah kebulatan hati atau tekad yang tidak dapat diganggu gugat untuk  menghafal Alquran dengan pelaksanaannya. Kebulatan tekad atau niat yang kuat dalam menghafal di sini dilakukan semata-mata untuk mengharap kebahagiaan hakiki, yaitu keridhaan, pahala, dan ampunan Allah SWT (hal. 43-45).

Ketulusan demikian penting sebagai bekal dalam menghafal Alquran agar tidak mudah patah semangat. Jika menghafal karena Allah, maka ia tidak akan mudah kehilangan semangat walaupun dalam perjalanannya menemui banyak kesulitan dan hambatan. Kesulitan dan hambatan bagi orang yang tulus dalam menghafal dilihat sebagai ujian keimanan yang harus ditaklukkan, serupa dengan musuh dalam peperangan.


Kesungguhan dan Menjauhi Kemaksiatan

Setelah bekal dalam menghafal sudah dirasa cukup, maka untuk selanjutnya yang dibutuhkan adalah kesungguhan. Kesungguhan dalam menghafal merupakan kunci utama agar bisa menghafal dengan baik. Tanpa kesungguhan dalam proses menghafal, maka orang akan mudah menyerah terhadap  ujian yang akan menghadang.

Menurut penulis buku ini, berat atau ringan sebuah ujian sebenarnya tidak diukur dari besar dan kecilnya, tetapi diukur dari perjuangan menghadapinya. Semua ujian itu berat selama tidak dihadapi dan semuanya menjadi ringan apabila diperjuangkan. Cara sukses menghadapi ujian hanya satu, mujahadah, yaitu semangat yang membara, bersungguh-sungguh, bekerja maksimal sekuat tenaga, mengerahkan segala kemampuan, dan berdaya upaya sampai titik penghabisan (hal. 122-124).

Selain kesungguhan, agar proses menghafal berjalan lancar yang perlu dilakukan adalah menghindari kemaksiatan. Perbuatan maksiat menyulitkan seseorang dalam proses menghafal dan membuat orang yang sudah hafal mudah lupa. Andaikan masih bisa mengingat huruf-huruf dan kalimat-kalimatnya, huruf-huruf dan kalimat-kalimat itu sudah kehilangan kandungannya (hal. 193).

Hal demikian tentu saja tidak diinginkan oleh para penghafal Alquran. Karenanya bagi para penghafal, menghindari segala jenis kemaksiatan merupakan kunci untuk bisa mudah dan lancar dalam proses menghafal.



[eramadina.com]
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar