Rasulullah Ajarkan Pentingnya Menghafal Alquran


Qiroati Pusat – Pendidikan dalam Islam berkembang pesat dari kalangan kecil ke sekolah-sekolah yang terhubung dengan masjid. Dalam waktu singkat, sekolah dan universitas yang lebih besar mulai bermunculan di seluruh kekhalifahan Islam.

Saat Khilafah berkembang, metode pengajaran Nabi Muhammad menyebar. Mengumpulkan dan menyebarkan ajaran Alquran dan pengetahuan Islam dianggap sebagai pekerjaan yang patut dipuji.

Kuttabs (orang terpelajar) dan mu'allams (guru) ditemukan di setiap kota dan desa Islam. Ibnu Hawqal dalam kunjungannya ke Sisilia mengaku telah menghitung sekitar 300 guru SD. Jubayr b. Hayya, yang kemudian menjadi pejabat dan gubernur di Khilafah Islam awal adalah seorang guru di sebuah sekolah di Taif.

Tokoh-tokoh Islam seperti al-Hadjadd dan penyair al-Kumayt dan al-Tirimmah juga ternyata merupakan seorang kepala sekolah. Selain subjek Islam, subjek lain mulai ditambahkan dalam pembelajaran. Ada kelas-kelas dalam ajaran Islam, hukum Islam dan yurisprudensi, matematika, tata bahasa dan kedokteran, pertanian, etika, kewarganegaraan, ekonomi, dan sejarah.

Para guru, asisten mereka dan murid saat itu belajar dengan sangat serius. Belajar adalah salah satu hal paling bergengsi Masjid dan sekolah umumnya adalah yayasan amal. Literasi dan pendidikan didorong begitu kuat sehingga tidak ada murid yang buang-buang waktu.

Kurangnya uang tidak berarti kurangnya pendidikan. Persamaan pendidikan yang luar biasa menjadi suatu ketetapan di institusi Islam awal dan fasilitas pendidikan saat itu. Lomba menjadi salah satu penghargaan yang diberikan pada generasi cendekiawan.

Seorang guru yang terkenal adalah Ibnu Sina (dikenal di barat sebagai Avicenna) yang merupakan seorang pemikir, dokter, dan guru. Pada abad ke 10 Masehi, ia menulis buku teks kedokteran yang digunakan sebagai referensi medis utama selama lebih dari 800 tahun.

Ibnu Sina mengembangkan kurikulum dan teori pendidikan yang mampu bertahan dalam waktu yang lama. Dia menekankan perlunya anak belajar Alquran, puisi, taqwa dan etika. Tapi dia juga tidak mengabaikan kebutuhan anak untuk bermain, bergerak, dan memiliki kesenangan lain.

Menurutnya tujuan keseluruhan pendidikan adalah pertumbuhan fisik, spiritual, dan moral setiap individu. Ia memikirkan pendidikan sebagai cara mempersiapkan anak untuk memberikan kontribusi abadi bagi masyarakat mereka.

Nabi Muhammad SAW, yang meski sebelumnya tidak menikmati segala prosedur pembelajaran, ia sangat mengerti pentingnya pendidikan. Dia mengilhami para pengikutnya untuk mencari ilmu dan menyampaikan pengetahuan itu kepada orang lain.

Dia mengajarkan pentingnya menghafal Quran dan bertindak berdasarkan pengetahuan yang disampaikannya. Dia mendorong para pengikutnya untuk mencari tanda-tanda kehebatan Tuhan di dunia sekitar mereka.

Untuk mencintai Tuhan seseorang harus mengenalNya, mengetahui dan memahami kemegahan dunia yang Dia ciptakan. Pengetahuan adalah kunci untuk mencintai Pencipta kita dan menyembah Dia dengan cara terbaik.



[republika.co.id]
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar