Kisah Orang-orang yang Tetap Istiqomah Belajar Quran Meski Terbata-bata


Qiroati Pusat – Kita tentu kagum pada orang-orang yang cepat dalam belajar quran. Hafizh cilik bertebaran di mana-mana, Musa di usia dini sudah hafal quran bahkan mewakili Indonesia mengikuti perlombaan MTQ di luar negeri. Hari ini pun bermunculan dauroh-dauroh menghafal quran dalam waktu relatif singkat. Setahun hafal 30 juz, ada yang hanya setengah tahun bahkan ada program menghafal quran dari al fatihah sampai annas cuma butuh waktu 60 hari saja.

Tentu saja fakta ini menggembirakan buat kita semua. Sudah fitrahnya orangtua ingin anaknya lebih baik dari mereka sendiri. Sebagai Kakak misalnya kita juga tentu ingin adik-adik kita lebih sukses.

Masih teringat pengalaman penulis, ketika dalam perjalanan dalam bus dari Temanggung menuju Semarang ngobrol dengan seorang Ibu yang belum berjilbab tapi ternyata menyekolahkan anaknya di pondok supaya mendapatkan pendidikan alquran.

Tapi apakah kita lupa, pada hadits nabi tentang orang yang terbata-bata dalam belajar quran bahwa mereka itu mendapatkan dua pahala?

“Orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan dia mahir melakukannya, kelak mendapat tempat di dalam Syurga bersama-sama dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an, tetapi dia tidak mahir, membacanya tertegun-tegun dan nampak agak berat lidahnya (belum lancar), dia akan mendapat dua pahala.” (Riwayat Bukhari & Muslim)

Penulis merenung tentang orang-orang yang belajar quran mendapat dua pahala ini. Kita senang dan bangga melihat anak-anak atau pemuda yang menghafal 30 juz quran dengan singkat kan. Tapi ternyata penulis lebih senang dan bangga lagi saat melihat orang-orang yang tetap istiqomah belajar quran walaupun terbata-bata.

Ada seorang pemuda berusia 23 tahun hampir 3 bulan ini belajar quran, ketika disuruh baca masih sering macet. Huruf ketukar-tukar bahkan lupa. Kalau menghafal quran harus ditalqin oleh Ustadz.

Ada juga seorang Bapak usia 40an tahun dan anaknya sudah 4, ketika menghafal quran panjang pendeknya masih sering ketukar juga.

Tapi keduanya ini salah dua orang yang paling sering datang pertama dibandingkan santri-santri lainnya.

Ada juga seorang Bapak lainnya yang ketika menghafal quran cepat sekali lupanya. Ketika mulai menghafal ayat yang baru, ayat yang pernah dihafal kemarin lupa begitu saja. Sulit sekali maju-maju hafalannya. Tapi meskipun begitu dia tetap lanjut program belajar quran periode kedua meski saat periode pertama gagal mencapai target hafalan juz 30. Dia tidak menyerah meski terbata-bata.

Mari beri ruang di hati kita untuk belajar pada orang-orang yang mendapat dua pahala ini. Tentu semua orang lebih mudah kagum pada mereka yang mahir membaca quran. Tapi lewat orang-orang yang tetap istiqomah belajar quran walau terbata-bata ini lah, kita sejatinya belajar tentang menghargai dan menjalani proses. Bukan semata-mata merayakan hasil akhir dari proses belajar itu sendiri.

Karena sungguh, manusia terbaik itu tidak berhenti pada orang-orang yang mahir baca quran saja. Tapi manusia terbaik jatuh pada mereka yang ingin senantiasa berproses, antara belajar dan mengajarkan quran.

Dari Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ .

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari)



[annida-online.com]
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar