Retorika Alquran tentang Isra' Mi'raj


Qiroati Pusat – Isra’ Mi’raj adalah peristiwa diperjalankannya Rasulullah Saw. dari Mekah ke Bayt al-Maqdis, kemudian naik ke Sidrat al-Muntaha dan kembali lagi ke Mekah pada satu malam dalam waktu singkat. Sebuah peristiwa yang membuktikan bahwa kekuasaan Allah itu tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu.

Bagaimana mungkin Nabi Muhammad Saw. dapat terbang dengan kecepatan sangat tinggi, menembus atmosfir dan melepaskan diri dari daya tarik bumi. Bagaimana mungkin jasad beliau tidak terbakar dan terluka sedikit pun, padahal dalam sejumlah riwayat dijelaskan bahwa beliau diperjalankan dengan ruh dan jasadnya. Demikian keberatan-keberatan yang muncul jika kita mencoba memahaminya dengan pendekatan ilmu pengetahuan.

Alam seisinya, termasuk langit dan bumi, diciptakan dengan ketentuan-ketentuan yang disebut sunnatullah yang terjadi di depan mata. Realitas materil inilah yang menjadi tumpuan sains modern. Kenyataan ini diakui oleh al-Quran. Namun, di sisi lain al-Quran menjelaskan bahwa ada realitas lain yang tidak dapat dijangkau oleh panca indera sehingga tidak bisa menjadi obyek observasi ilmiah. Aku bersumpah dengan apa-apa yang dapat kamu lihat dan apa-apa yang tidak dapat kamu lihat (Q.S. 69: 38-39)

 Karena itu, terjadinya kemungkinan-kemungkinan lain yang tidak kasat mata sangatlah mungkin. Keterbatasan mata untuk menjangkau “apa-apa yang tidak dapat dilihat” tidak berarti sesuatu itu mustahil terjadi. Sastrawan dan budayawan Arab terkemuka, Abbas M. El-Aqqad, menyatakan, “membatasi akal hanya pada satu kemungkinan atau pilihan adalah penyakit yang paling berbahaya buat akal.”

Dalam kerangka inilah selayaknya kita memahami peristiwa Isra’ dan Mi’raj Rasulullah Saw. Hendaknya kita menyisakan ruang dalam hati untuk mempercayai dan mengimaninya. Selama kita meyakini bahwa seluruh alam ini di bawah kendali dan kekuasaan Tuhan, maka tidak ada yang mustahil terjadi jika Dia telah berkehendak, Sesungguhnya apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya mengatakan: “Jadilah!” maka terjadilah ia. (Q.S. Yâsîn: 82)

Dengan pendekatan imany inilah akal harus siap menerima hal-hal yang tidak ilmiah. Menurut Syeikh Sya’rawi, da’i terkemuka Mesir: Al-îmânu qad yufhamu wa qad lâ yufhamu (masalah-masalah keimanan terkadang dapat dipahami dan terkadang tidak).

Peristiwa Isra’ secara eksplisit dijelaskan dalam sebuah surat yang disebut al-Isra’ (surat ke-17). Sementara Mi’raj hanya disebut secara implisit dalam surat an-Najm (surat ke-53). Kita mungkin akan bertanya, mengapa demikian?

Pada saat peristiwa itu berlangsung orang telah sering melakukan perjalanan dari Mekah ke Palestina, tempat Bayt al-Maqdis berada. Dengan mengendarai kuda atau onta, perjalanan pergi dan pulang dapat ditempuh selama dua bulan. Dengan Isra’ Mi’raj, Allah ingin menunjukkan kepada manusia bahwa kekuasaan-Nya tidak mengenal batas waktu. Dicantumkannya peristiwa tersebut dalam al-Quran adalah untuk memberi kesempatan kepada akal manusia untuk percaya. Terlepas dari panjang dan pendeknya waktu yang ditempuh, yang jelas jarak antara Mekah dan Palestina mungkin ditempuh oleh manusia. Dengan begitu Rasullullah akan dengan mudah menjelaskan bukti-bukti mukjizat, seperti penjelasan rinci keadaan Masjid al-Aqsha yang baru saja dikunjunginya.

Tidak demikian halnya peristiwa Mi’raj, yaitu naiknya Nabi dari Masjidil Aqsha menembus tujuh lapis langit menuju Sidrat al-Muntaha. Peristiwa tersebut hanya Nabi seorang yang mengalaminya. Maka tidak dicantumkannya peristiwa tersebut secara tegas dalam Al-Quran sebenarnya membuktikan keterbatasan akal manusia dalam memahami bukti-bukti akan keberadaannya. Penempatannya secara implisit dalam surat an-Najm yang berarti ‘bintang’ menguatkan kenyataan itu. Seperti dinyatakan oleh banyak pakar al-Quran, nama-nama surat menggambarkan kesimpulan ayat-ayat yang terkandung di dalamnya. Dengan kata lain, inti uraian satu surat dipahami dari nama surat tersebut. Ketidakmampuan manusia untuk menjangkau semua galaksi bintang-bintang yang ada di kosmos alam raya sampai saat ini adalah merupakan gambaran ketidakmampuannya untuk memahami peristiwa Mi’raj dengan pendekatan rasio.

Dengan demikian, peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah sebuah ujian keimanan. Manusia tidak hanya ditantang dengan tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang tampak, tetapi Tuhan juga menyodorkan tantangan-Nya berupa tanda-tanda kekuasaan yang jauh di luar jangkauan manusia. Dan Kami tidak menjadikan penglihatan yang kamu alami (hai Muhammad, pada malam Isra’ dan Mi’raj) melainkan sebagai ujian bagi manusia. (Q.S. al-Isrâ: 60)

Dengan ujian keimanan ini diharapkan akan muncul manusia berkualitas dengan kekuatan ruhani yang tinggi. Oleh karena itu “oleh-oleh” yang dibawa oleh Rasulullah Saw. sepulangnya dari Isra’ dan Mi’raj adalah shalat. Shalat adalah alat komunikasi yang menghantarkan seorang hamba kepada Dzat Pencipta, Penguasa alam semesta. Dengan komunikasi yang baik, manusia akan sampai pada derajat yang tinggi. Shalat juga merupakan kebutuhan manusia. Sebab tidak seorang pun di dunia ini yang tidak pernah berharap dan merasa cemas. Secara sadar atau tidak, dalam shalat itulah semuanya tertumpahkan. Karena itu shalat menjadi ajaran seluruh agama-agama meski dengan cara yang berbeda-beda.

Dalam Islam, shalat merupakan inti peribadatan (mukhkhul ‘ibâdah). Berbeda dengan ajaran-ajaran ibadah lainnya, ajaran shalat dijemput dan diterima langsung oleh Rasulullah Saw. berhadapan dengan Tuhannya di sebuah tempat yang sangat agung, Sidrat al-Muntaha. Suatu kehormatan tersendiri yang diberikan kepada Nabi kita, Muhammad Saw. Tidak seorang makhluk pun pernah mendapat kehormatan seperti itu. Malaikat Jibril yang dikenal dekat Tuhan tidak mampu menembus wilayah Sidrat al-Muntaha yang dipenuhi dengan cahaya-cahaya ketuhanan. Dikisahkan dalam sebuah riwayat, ketika Rasulullah dan Jibril mendekati Sidrat al-Muntaha, Rasulullah meminta Jibril maju lebih dahulu. Lalu apa kata Jibril? “Idzâ taqaddamtu ihtaraqtu, wa idza taqaddamta anta ikhtaraqta” (Kalau aku maju pasti akan terbakar, tetapi jika engkau yang maju, hai Muhammad, pasti engkau dapat menembus dan melampauinya).

Nabi Musa AS yang dikenal gagah perkasa juga tidak mampu berhadapan langsung menatap wajah (cahaya) Tuhan. Ketika menerima ajaran Taurât di bukit Sinai, dia meminta agar Allah menampakkan diri. Tetapi apa yang terjadi ketika Tuhan menampakkan diri di sebuah bukit? Seketika itu bukit terguncang dan hancur luluh, sementara Musa jatuh pingsan (QS. Al-A’râf [7]: 143).

Dua kisah di atas membuktikan bahwa ibadah shalat memiliki kedudukan yang sangat tinggi, karena diterima oleh seorang Nabi yang sangat terhormat di tempat yang sangat mulia.

Bukanlah suatu kebetulan jika di dalam mushaf al-Quran ditemukan kisah Nabi Musa dan Bani Isra’il disebut setelah ayat yang mengisahkan peristiwa Isra’. Sementara pada akhir surat an-Nahl (surat ke-16) yang terletak sebelum surat al-Isra’ diceritakan sosok Nabi Ibrahim yang dapat dijadikan teladan yang baik, patuh kepada Tuhan dan penganut ajaran monoteisme (Tauhid). Susunan semacam ini memberikan beberapa kesan kepada kita antara lain; Pertama, perintah shalat yang diterima oleh Rasulullah Saw. dalam Isra’ dan Mi’raj adalah pengejawantahan dari inti ajaran monoteisme yang dibawa oleh para Nabi pembawa ajaran-ajaran Samawi yang terlahir dari keturunan Ibrahim AS yang dikenal sebagai “Bapak Monoteisme”, termasuk Yahudi dan Nasrani.

Kedua, seperti dinyatakan oleh seorang ilmuwan Al-Quran Mesir terkemuka, M. Abdullah Diraz, setiap surat dalam al-Quran terdiri atas mukaddimah, batang tubuh, dan penutup. Di penutup surat ini kita temukan tata cara dalam shalat yang harus diperhatikan agar tercapai tujuan pengikraran akan keesaan Tuhan (Lihat QS. 17: 110). Dengan demikian, penyebutan Nabi Musa setelah peristiwa Isra’ membuktikan bahwa melalui shalat yang ditetapkan saat Isra’ dan Mi’raj Allah mengangkat derajat Nabi Muhammad Saw. ke tingkat yang tidak pernah dicapai oleh para Nabi, termasuk Nabi Musa. Tingkatan ini dalam ayat ke 79 disebut sebagai Maqâman Mahmûdâ.  “Dan pada sebagian malam hari, sembahyang tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” (QS. 17:79). Dengan kata lain, shalat dapat mengantarkan manusia kepada tingkat yang paling ideal, dalam arti menjadi manusia seutuhnya (insan kamil).

Ketiga, penyebutan kisah Isra’ dan Mi’raj bergandengan dengan Nabi Musa sebagai Nabi bangsa Isra’il merupakan ikrar pernyataan perpindahan misi kenabian dan kerasulan dari keluarga Bani Isra’il keturunan Ya’kub kepada bangsa Arab keturunan Isma’il bin Ibrahim alayhimussalâm. Selama kurang lebih 2300 tahun misi kenabian berada di tengah-tengah keluarga Bani Isra’il dan keturunannya, nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan seringkali dilanggar. Bahkan, sampai ke tingkat membunuh para utusan Tuhan yang berasal dari mereka sendiri. Hal ini membuktikan bahwa dalam sejarah kemanusiaan yang cukup panjang bangsa Isra’il selalu gagal mewujudkan misi kedamaian dan kemanusiaan di muka bumi ini. Sedemikian pentingnya peristiwa pemindahan amanat ini, maka surat ini disebut juga dengan surat Bani Isra’il.



[psq.or.id]
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar