Etika Pemimpin dalam Al-Quran (Rahasia Kesuksesan Negeri Saba’)


Qiroati Pusat – Banyak kisah ditampilkan di dalam al-Quran mempunyai relevansi dengan kehidupan kita sekarang. Al-Quran telah menampilkan sejumlah figur positif dan figur negatif dengan segala akibatnya dalam masyarakat. Ada kisah pembela kebenaran seperti para Nabi dan Rasul serta ada juga tokoh pengumbar kezhaliman seperti Fir’aun, Tsamud, ‘Ad, dan Abraha.

Salah satu di antara figur yang akan dibahas dalam khutbah singkat ini ialah cuplikan kisah Nabi Sulaiman dan Penguasa Saba’, yang diceritakan di dalam beberapa surah al-Quran, khususnya dalam surah an-Naml dan surah Saba’.

Suatu ketika Nabi Sulaiman menyelenggarakan rapat lengkap, tetapi salah satu peserta rapat yang tidak hadir ialah Hud-hud, utusan bangsa burung; وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لَا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ (Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir? (QS. an-Naml [27]: 20). Nabi Sulaiman marah tetapi kemarahannya dikendalikan oleh kearifannya sebagai seorang pemimpin: لَأُعَذِّبَنَّهُ عَذَابًا شَدِيدًا أَوْ لَأَذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ (Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya, kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang” (21). فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ (Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita penting yang diyakini, (22). Nabi Sulaiman mendengarkan dan menganalisis secara seksama alasan Hudhud: إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ (Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar (23). وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ (Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah, dan syetan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk (24).

Sebagai seseorang yang memiliki sense of priority, laporan-laporan dari staf Nabi Sulaiman tidak dipetieskan tetapi langsung segera ditindaklanjuti: اذْهَبْ بِكِتَابِي هَذَا فَأَلْقِهِ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانْظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ (Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”). (28). Tidak lama kemudian, burung Hud-hud membawa surat itu kepada Ratu Balqis, pemimpin negeri Saba’ ketika itu. Sebagai seorang pemimpin tertinggi negeri Saba’, ia tidak mau gegabah dan mengambil tindakan sendiri, tetapi ia segera mengumpulkan para petingginya:  قَالَتْ يَاأَيُّهَا الْمَلَأُ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ (Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia). (29). Redaksi surat Nabi Sulaiman cukup singkat tetapi sarat dengan makna: إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ.أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ (Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (30). Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang berserah diri” (31).

Reaksi Pemimpin negeri Saba’ sangat hati-hati menanggapi surat Nabi Sulaiman. Ia meminta pendapat dan saran para pembesarnya mengenai langkah-langkah yang akan diambil: قَالَتْ يَاأَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي أَمْرِي مَا كُنْتُ قَاطِعَةً أَمْرًا حَتَّى تَشْهَدُونِ (Berkata dia (Balqis): “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis-(ku)” (32). Pola kepemimpinan yang terbuka seorang pemimpin disambut dengan sikap tawadhu’ dari para petingginya: قَالُوا نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ وَالْأَمْرُ إِلَيْكِ فَانْظُرِي مَاذَا تَأْمُرِينَ (Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu, maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”). (33).

Sebagai seorang pemimpin yang punya visi dan kecerdasan yang tinggi, ia sepenuhnya sependapat dengan saran para pembesarnya untuk tidak menggunakan  kekerasan di dalam menyikapi suatu persoalan, meskipun ia tidak menafikan kemungkinan itu. Ia menyampaikan strategi yang sebaiknya diambil: وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِمْ بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌ بِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُونَ (Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu). (35). Ia mengutamakan pendekatan diplomasi selama itu masih memungkinkan. Ia memutuskan untuk mengirimkan bingkisan yang bernilai tinggi kepada Nabi Sulaiman dengan harapan kedua negeri ini menghindari jalan kekerasan. Sementara di pihak lain, Nabi Sulaiman tidak kalah cerdas dan kayanya. Ia menukar bingkisan itu dengan sesuatu yang lebih berharga dengan cara-cara yang amat canggih, sehingga proses penukaran itu tidak sempat dideteksi oleh pasukan Ratu Balqis. Akhirnya, kedua kerajaan ini menyatu dan membangun sinergi dengan cara terhormat dan beradab.

Kecerdasan dan kearifan pemimpin negeri Saba’ mendapatkan pengakuan di dalam al-Quran: لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ (Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”). (Q.S. Saba’/34:15).

Figur Ratu Balqis, pemimpin negeri Saba’, selain memiliki singgasana besar (‘arsyun ‘azhim) negerinya juga dilukiskan sebagai Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur, yang merupakan obsesi setiap negeri muslim. Sayang sekali kejayaan negeri ini tidak dapat dipertahankan karena para penerusnya meninggalkan pola-pola ideal kepemimpinan para pendahulunya. فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ (Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr). (16).

Pelajaran berharga yang dapat diperoleh dari kisah di atas adalah sebagai berikut:

  1. Kejujuran, konsistensi, kecerdasan, kearifan, keterbukaan, dan sikap demokratis seorang pemimpin merupakan faktor kunci bagi pencapaian tujuan dan cita-cita sebuah bangsa. Sebaik apapun sebuah sistem tidak banyak gunanya tanpa kehadiran figur ideal seperti tadi;
  2. Figur yang berpotensi memiliki julukan pemilik ‘arsyun ‘azhim (singgasana besar) sebagai lambang supremasi kewibawaan sebuah negeri dan Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur sebagai simbol ideal sebuah negeri, ternyata tidak hanya terdapat di negeri-negeri yang secara formal mencantumkan Islam sebagai dasar konstitusi, tetapi juga di sebuah bangsa yang secara substansial menerapkan prinsip-prinsip universal Islam;
  3. Pemimpin yang sukses tidak mesti hanya dari kalangan pria, tetapi kisah al-Quran di atas membuktikan adanya seorang perempuan, yakni  Ratu Balqis, yang berhasil menjadi penguasa sukses;
  4. Pola kepemimpinan ideal tidak hanya bisa diterapkan di dalam masyarakat Islam, tetapi juga di dalam masyarakat pluralistik. Dengan kata lain, tanpa harus menunggu untuk menjadi Negara Islam, nilai-nilai dasar kepemimpinan Islami sudah dapat diterapkan. Masyarakat Saba’ yang pada awalnya adalah masyarakat penyembah matahari, tetapi mampu menciptakan sebuah masyarakat yang tangguh dan Islami;
  5. Langgengnya sebuah rezim di dalam suatu masyarakat ditentukan oleh seberapa jauh para penguasa dapat mempertahankan nilai-nilai luhur para pendahulunya. Modernitas dan perubahan merupakan sifat alamiah, tetapi mempertahankan nilai-nilai luhur yang masih relevan dan mengakomodir nilai-nilai baru yang lebih positif, itulah yang menjadi inti pola kepemimpinan profetik (kenabian), walaupun menurut Ibn Khaldun hal ini sulit dicapai karena setiap generasi adalah anak zamannya. Ada generasi perintis, ada generasi pembangun, ada generasi penikmat, dan akhirnya ada generasi perusak;
  6. Faktor lain ialah tingginya partisipasi dan dukungan masyarakat secara komprehensif, yang ditandai dengan hidupnya semangat musyawarah di dalam masyarakat. Hal ini sejalan dengan ayat: وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Āli ‘Imran [4]: 159);
  7. Figur pemimpin yang diwarnai dengan kecurangan, kerakusan, dan kezhaliman dalam kisah-kisah al-Quran semuanya berakhir dengan kondisi yang memprihatinkan. Sehebat apapun Fir’aun yang pernah melantik dirinya sebagai Tuhan (ana rabbukum al-a’la), tetapi akhirnya tersungkur di lautan kehinaan. Sebaliknya, pemimpin ideal yang bersahaja, memegang teguh amanah, menghargai konstituennya, dan menjauhi segala bentuk ketidakjujuran, semuanya berakhir dengan mengesankan, bahkan dipuji oleh sejarah.



Penutup

uplikan kisah tersebut mudah-mudahan membawa inspirasi baru buat kita sebagai anggota masyarakat bangsa Indonesia yang kini sedang berusaha menciptakan model kepemimpinan yang sesuai dengan kondisi obyektif masyarakat kita. Kisah-kisah dalam al-Quran semestinya memberikan pelajaran kepada kita semua, baik sebagai pemimpin maupun sebagai anggota masyarakat. Pemimpin ideal dan masyarakat yang adil berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.

Kondisi bangsa kita yang pluralistik membutuhkan pengertian dan kearifan, baik sebagai pemimpin maupun sebagai rakyat. Kearifan dan kecerdasan seperti yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman dan Pemimpin Saba’ perlu juga dimiliki oleh para pemimpin bangsa ini. Para elit politik seharusnya banyak belajar tentang kisah jatuh-bangunnya sebuah rezim dan hidup matinya sebuah bangsa di dalam al-Quran. Perlu diketahui bahwa al-Quran telah memberikan warning (peringatan) bahwa ajal tidak hanya dipunyai oleh seorang individu tetapi juga kelompok masyarakat. Likulli ummatin ajalun (setiap ummat atau rezim mempunyai ajal). Panjang atau pendeknya sebuah rezim menurut al-Quran ditentukan seberapa jauh seorang pemimpin berpegang teguh kepada nilai-nilai ideal kemanusiaan dan kemasyarakatan, seperti yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul. Wallahu a’lam.



[psq.or.id]
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar