Indahnya Alquran dan Ramadhan


Qiroati Pusat – “Gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan tampak”. Ungkapan sederhana ini lebih sering dimaknai secara negatif. Makna yang populer dari ungkapan ini diarahkan kepada seseorang yang selalu peka terhadap kesalahan orang lain sekecil apapun kesalahan itu. Akan tetapi ia tidak peka melihat kesalahan sendiri meskipun itu adalah kesalahan yang besar. Di luar pemahaman itu, sebenarnya ada pemaknaan yang lebih positif dari ungkapan di atas. Makna tersebut adalah; seringkali sesuatu yang besar dan sangat berharga yang kita miliki, tidak terlalu kita hargai dan kita banggakan. Sementara sesuatu yang kecil yang dimiliki orang lain, sangat ingin kita memilikinya.

Begitulah gambaran sebagian umat Islam, umat akhir zaman yang diciptakan oleh Allah sebagai umat terbaik. Umat yang sedemikian lengkapnya diberikan tuntunan dan bimbingan. Di antara keistimewaan yang paling besar dari umat ini adalah Alquran, bersama Ramadhan sebagai bulan saat diturunkannya (Q.S. Al-Baqarah: 185).

Namun kadang kala sebagian umat Islam tidak merasakan kemuliaan Alquran. Sehingga ia tidak merasa percaya diri dan tidak bangga dengan kitab suci yang berada dalam genggamannya. Ia masih melihat ada hal lain yang lebih berharga untuk dijadikan pegangan hidupnya. Hal ini terjadi karena sedikit dari umat ini yang dekat dengan Alquran. Ssebagian umat bahkan tidak mengenal Alquran. Dalam hal ini berlaku ungkapan “tak kenal maka tak sayang”. Maka menjadi tugas dakwah bersama, bagaimana mengenalkan umat Islam terbesar di dunia ini akan keagungan Alquran dan kemuliaan Ramadhan.

Jika hidup ibarat barang elektronik seperti handphone, maka Alquran adalah buku panduannya. Setiap kali seseorang membeli HP, selalu disisipkan buku panduan penggunaan HP tersebut. Produsen mengharapkan agar pengguna HP dapat menggunakannya dengan baik dan tidak terjadi misuse. Jika terjadi kesalahan dalam penggunaan HP, alih-alih HP akan banyak membantu si pemilik justru sebaliknya HP bisa menjadi sumber masalah. Begitupun hidup yang cuma sekali yang Allah berikan, jika tidak dijalani sesuai dengan panduan Alquran maka kesempitan dan kesengsaraan menjadi atribut sepanjang jalan. Tetapi jika Alquran dijadikan sebagai guide maka seseorang tidak akan tersesat dan sengsara. Hal tersebut secara tegas Allah sampaikan dalam Alquran Surat Thaha: 123-124.

Ramadhan, di mana umat Islam sedang berada di dalamnya adalah bulan yang sangat istimewa. Jika hidup ini seperti handphone, maka Ramadhan ibarat charger yang akan menghidupkannya. HP dapat digunakan dengan baik setelah di-charge. Begitu pula dengan Ramadhan, ia akan menjadi charger bagi hidup manusia. Selama satu bulan Ramadhan umat Islam di-charge, maka perjalanan hidup 11 bulan berikutnya akan melahirkan banyak perubahan. Hidup yang sebelumnya kering dan gersang, setelah di-charge Ramadhan akan menjadi teduh dan tenang. Hidup yang sebelumnya terasa sulit dan sempit akan menjadi luas dan lapang.

Sehebat apapun HP jika ia tidak di-charge, maka HP tersebut tidak lebih dari potongan besi dan plastik. Lama-kelamaan potongan besik dan plastik itu akan menjadi sampah yang tidak berharga. Hidup yang tidak di-charge menjadi tidak bernilai bahkan yang lebih berat lagi hidup ini akan menjadi beban buat manusia. Jika HP rusak, masih banyak kios tempat kita membeli lagi. Tetapi ketika hidup ini gagal, ke mana tempat manusia akan mencari.



[dakwatuna.com]
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar