Telaga Ramadhan


Oleh: Arif Munandar Riswanto

Qiroati Pusat – Ramadhan bagaikan sebuah telaga yang sangat besar. Di dalam telaga tersebut berisi kekayaan yang melimpah ruah. Ia mengalirkan air yang sangat jernih, sejuk, dan tidak pernah kering. Segala kebutuhan yang diperlukan oleh manusia bisa terpenuhi di dalam telaga tersebut. Dan manusia bisa membersihkan kotoran, memenuhi hajat hidup, dan mendapatkan berbagai kekayaan dari telaga tersebut.

"Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat, dan Ramadhan ke Ramadhan akan menjadi kifarat dosa selama menjauhi dosa-dosa besar," (HR Muslim).

Namun, meskipun telaga yang luas dan jernih tersebut telah menghampar di depan mata, tidak semua orang bisa memanfaatkannya dengan benar. "Banyak orang yang shaum (berpuasa), tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari shaumnya kecuali hanya rasa lapar dan dahaga," (HR Ahmad).

Orang-orang yang seperti itu adalah orang-orang yang tidak bisa menghampiri telaga Ramadhan dengan baik. Telaga tersebut dibiarkan mengalir begitu saja. Bahkan, mereka cenderung menjauhinya. Karena, puasa hanya sekadar menahan makan dan minum. Dengan demikian, maka telaga tersebut tidak bisa didekati dengan rasa lapar dan haus.

Jika rasa lapar dan dahaga tidak cukup untuk mengantarkan seseorang kepada telaga Ramadhan, maka telaga tersebut harus didekati dengan iman dan muhasabah. "Barangsiapa yang puasa Ramadhan dengan penuh iman dan pengharapan, maka segala dosanya yang terdahulu akan diampuni," (HR Bukhari dan Muslim).

Secara etimologi, iman berarti percaya sedangkan muhasabah berarti introspeksi. Ketika mengomentari hadis tersebut, An-Nawawi menerangkan bahwa iman adalah percaya bahwa shaum adalah kebenaran yang memiliki keutamaan sedangkan muhasabah berarti mengharap ridha Allah semata.

Telaga Ramadhan tidak bisa didekati hanya dengan rasa lapar dan dahaga, sebab ibadah shaum (puasa) bukan ibadah simbolik-ritual semata. Telaga Ramadhan harus didekati dengan ibadah substantif yang harus meresap ke dalam hati. Jika shaum bisa dilakukan dengan penuh keimanan dan muhasabah (ikhlas), maka segala manfaat yang ada di dalam telaga Ramadhan pasti akan bisa diambil.

Orang-orang yang bisa memanfaatkan telaga Ramadhan dengan baik, dialah orang-orang yang kembali kepada fitrah (suci). Dosa-dosa dari orang-orang seperti itu akan diampuni dan mereka berhak membawa segala bentuk kekayaan yang ada di dalam perut telaga Ramadhan.

Inilah rahasia mengapa ibadah Ramadhan ditutup dengan perayaan Idul Fitri. Secara etimologi Idul Fitri berarti kembali kepada fitrah. Fitrah ketika manusia bisa kembali kepada nilai-nilainya yang asasi dan belum pernah terkontaminasi oleh nafsu-nafsu duniawi. Mudah-mudahan kita bisa memanfaatkan telaga Ramadhan ini dengan penuh iman dan muhasabah.



[republika.co.id]
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar