Alquran Tak Pernah Selesai Kita Baca


Qiroati Pusat – Sudah berapa lamakah kita tak membaca kitab suci masing-masing, tuan-puan? Ambil Alquran sebagai contoh, dan jadikan saya sebagai modelnya. Ternyata saya tak sesering itu membaca kitab suci yang tanpa cacatnya itu; apatah lagi berusaha sepenuh hati memahami, mengkaji, mencerap, mengamalkan.

Sudah cukup lama saya menutup kitab itu dalam ingatan, meskipun tentu saja tak bisa melupakannya begitu saja. Itu karena setiap kali shalat, minimal sebagai Muslim saya melakukan pengingatan terhadap firman Allah semampunya. Meskipun kualitasnya harus terus-menerus diuji.

Kata seorang teman, namanya Zulfahmi Andri, Alquran itu termasuk buku yang "tak pernah tamat" dibaca. Itu artinya buku yang harus terus-menerus dibaca ulang, dipilih-pilih lagi, diingat-ingat lagi. Kenapa bisa begitu, karena ternyata tingkat pemahaman yang terkandung di dalamnya bisa berlapis-lapis.

Saya pikir jangan kata Alquran, fenomena itu sudah pasti terjadi pula atas semua buku suci, baik yang "ilahiyah" atau "manusiawi" --Injil, Vedanta, Bagavadgita, Zabur, Taurat, Tafsir Alquran, juga Das Kapital, Ulysses, Tractatus Logico-Philosophicus, bahkan Kamasutra. Dia bilang, barangkali yang lebih penting dilakukan itu menyegarkan ingatan akan suatu hal atau keterangan, alih-alih mencari pemahaman baru yang bisa jadi memang belum mampu kita lakukan.

Padahal alangkah banyak kitab suci bagi manusia ini; bergantung dari mana manusia itu menentukan pilihan. Bisa karena suatu agama, tapi bisa pula bentuknya adalah buku indoktrinasi, mahakarya, kredo gerakan, bahkan amanat suatu warisan. Kalau sudah begitu sebenarnya jadi malu mengakui bahwa Alquran adalah kitab suci saya, sebab ternyata yang dibaca ternyata justru kitab lain yang kurang suci, banyak salahnya, banyak menimbulkan keraguan.

Coba, di rumah saya saja ada beberapa jenis Alquran: dua buah tafsir terjemahan versi Departemen Agama (yang seharusnya dibagikan gratis untuk seluruh Muslim bangsa Indonesia ini!), terjemahan Inggris karya Yusuf Ali, dua buah versi saku, sebuah yang tanpa tafsir, dan Al-'Aliyy, bahkan dulu ada versi tafsir H.B. Jassin --yang akhirnya dibawa kakak ke luar Jawa.

Belum bila ditambah konkordansinya, delapan jilid tafsir Ibnu Katsier yang tebal-tebal, Tema Pokok Alquran (Fazlur Rahman), dan beberapa kitab penjelas lainnya. Apa artinya buku itu bagi saya, terutama, jika sebenarnya jarang saya baca? Malulah saya jadinya.

Tapi meskipun cacat begitu pemahaman dan kepedulian saya pada Alquran, tetap ada yang bisa dituliskan. Misalnya soal surah dan ayat favorit. Saya tidak tahu persis kenapa begitu menyukai surah Al-Bayyinah (harfiahnya: barangkali karena rimanya yang sangat terjaga, atau itu terjadi sebagai sisa-sisa ingatan ketika belajar ngaji waktu kecil dulu, atau bisa jadi karena tafsirnya yang menyebutkan bahwa Alquran itu adalah bukti nyata kesucian sebuah kitab, dijaga isinya, dimuliakan lembaran-lembarannya. Di atas semua surah, inilah yang paling gemar saya ulang-meskipun belum hapal dengan sempurna.

Sedangkan pasase "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" dalam surah Ar-Rahman [55] menjadi kalimat yang paling diingat, saya catat dalam buku kecil quotable quotes versi diri sendiri.

Pasase ini diulang kurang-lebih 30 kali banyaknya. Terang sekali pesannya. Setiap kali ingat pasase ini, seharusnya saya sudah tak memiliki ruang lagi untuk berani menyangkal bahwa saya hidup dalam berkah yang luar biasa bentuknya. Mulai dari berkah membaca, sejumlah kemampuan dan pengetahuan, anugerah alam, mendapatkan nafkah, sampai kenikmatan seks. Sungguh sempurna baitnya:

"Tuhanmu yang Mahapemurah telah mengajarkan Alquran Dia menciptakan manusia mengajarinya pandai bicara."

Ah, nanti Anda beranggapan saya terlihat dogmatik. Tapi fakta bahwa pasase itu diulang-ulang membuat seorang kawan bertanya: kenapa harus ditegaskan sebanyak itu? Apa Tuhan sejenis perempuan tua rewel minta pengakuan terhadap keberadaan diri-Nya? Betapa naif pendapat saya.

Pemahaman saya yang begitu seadanya, pas-pasan, dan tampaknya begini-begini saja terhadap Alquran ini tentu sebenarnya suatu tragik. Bayangkan, sudah selama ini saya hidup, baru sepatah-dua patah kalimat yang betul-betul membuat saya "bergetar". Kenapa ini bisa terjadi? Apa disebabkan kemampuan mencerap pesan yang berlapis-lapis itu? Pernah saya belajar (sangat) sebentar --sayangnya tidak tuntas-- tentang cara membaca Alquran di suatu pengajian.

Cara itu punya prinsip bahwa Alquran sendiri yang akan menjelaskan segala keterangan di dalamnya. Akibatnya kita dipaksa (harus) terus-menerus mencari penjelasnya di seluruh hubungan teks yang mungkin tersedia. Bisa ditebak, Alquran terlihat seperti lingkaran: tak ada yang putus, sebab semuanya saling menjelaskan dan merujukkan.

Teknik ini memang agak aneh, tapi membuat Alquran jadi satu kesatuan-lebih dari sekadar kronologis, Alquran adalah peristiwa sejarah manusia. Berkaitan dengan jarangnya membaca Alqur'n itu, sebenarnya istri saya adalah orang yang sangat rewel atas kemalasan itu.

Sudah sering dia marah karena hal itu. Rendahnya pembiasaan diri membaca Alquran di tengah-tengah keluarga, dengan pengucapan lantang, tertata, berirama --sehingga bisa diperiksa-- membuatnya khawatir jangan-jangan itu merupakan pintu gerbang kehancuran nilai-nilai tradisional yang perenial.

Takut lama-lama kami cuma menjadi penjaga moral yang rapuh, bisa tumbang oleh nyanyian dari kumpulan mp3 di komputer yang bisa nyala sangat lama. Atau sirna oleh silau cahaya adegan film di televisi yang tanpa henti.

Lama-lama punah karena ditinggalkan sendiri oleh pemeluknya, pembacanya --saking jarangnya ia dibuka-buka, direnung-renung jadi patokan kehidupan. Kemudian tanpa disadari menjadi identitas usang yang malu-malu kita akui keberadaannya. Wah... menakutkannya! Terus terang saja, kita pasti terlampau mudah ingat "Asereje" kan daripada mau mengingat satu-dua perkataan Pencipta manusia?

Jadi tuan-puan, apa artinya "kitab suci" itu bagi kita semua sekarang? Manusia mewarisi banyak sekali lembaran suci, manuskrip yang dianggap bukan saja mengandung semacam hikmah dan misteri kehidupan, melainkan menawarkan jalan pulang menuju Keabadian. Sayang, kita seperti sangat sering meletakkan itu di pinggiran perhatian kita; mengabaikan.



[republika.co.id]
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar