19 Hari Hafal Al Qur’an (Bagian 2 - Selesai)


Qiroati Pusat – Sama dengan menghafal al-Qur`an, jika nafsu sudah hilang akan berat. Tetapi ketika terasa berat, itu tandanya ikhlas sudah datang.

Setelah hafal al-Qur’an?

Ternyata setelah hafal, pikiran jadi lain. Terpikir untuk melanjutkan sekolah. (Waktu itu secara formal Deden hanya lulus SD). Ini mungkin barakah al-Qur’an. Allah menggerakan pikiran saya.

Jadi saya merasakan betul, al-Qur’an membuat perubahan pada diri saya. Dari anak yang tidak punya masa depan, tiba-tiba Allah membukakan pintu dengan banyak pilihan, sampai saya bingung. Inilah yang saya rasakan dan alami jika al-Qur’an di Muroja’ah  tiap hari akan memberi perbaikan masa depan.

Beberapa tahun belakangan ini Deden Makhyaruddin resah. Begitu banyak  lembaga yang membuat program tahfiz (menghafal al-Qur’an). Tentu saja ini baik. Hanya, kenyataannya, setelah keluar pesanren para santri mayoritas hafalannya hilang.

Itulah yang kemudian mendorong Deden membuat gerakan Indonesia Muroja’ah . Gerakan ini masih sebatas di  Tengerang dan baru dua kali diadakan. Ia berharap gerakan serupa juga digelar di tempat lain.

Apa latar  belakang Indonesia Muroja’ah ?

Berdasarkan kenyataan, banyak sekali hafiz (penghafal al-Qur’an) yang menjadi mantan. Ketika di pesantren punya hafalan bagus, setelah keluar pesantren jadi mantan hafiz. Penyebabnya satu, yaitu di luar pesantren tidak menemukan atmosfir Muroja’ah  (mengulang) sehingga para hafiz ini kurang motivasi. Yang selalu disyiarkan itu tahfiz, Muroja’ah nya tidak. Akibatnya, semangat menghafalnya tinggi, tapi Muroja’ah nya tidak. Padahal kalau atmosfirnya bagus, mereka bisa Muroja’ah  sendiri kapan dan dimana pun. Dari sinilah kemudian dibuat gerakan Indonesia  Muroja’ah .

Bengkel Tahfiz ini ibarat kendaraan bermotor itu disebut bengkel atau servis berkala. Nah, para hafiz kita ini juga perlu diservis secara berkala. Dari bengkel tahfiz ini kemudian dibuat gerakan lebih besar, yaitu Indonesia Muroja’ah . Diharapkan dengan gerakan ini, baik itu para hafiz, gurunya, dan lembaganya terdorong untuk Muroja’ah .

Ibaratnya begini, sebuah pabrik katakanlah handphone agar produknya berkualitas mereka harus buat service centre.  Begitu juga lembaga tahfiz, jangan hanya bisa memproduksi para tahfiz, tapi juga harus mampu membuat service centrenya.

Tantangan bagi seorang hafiz agar istiqomah Muroja’ah ?

Semua rintangan itu media untuk mujahadah. Sering saya katakan,  mujahadah itu semanis hasilnya. Bersungguh-sungguh, berlelah-lelah menggapai hafalan yang berkualitas itu seindah hasilnya. Artinya, sekalipun sudah mujahadah sedemikian rupa tak hafal-hafal, tetap mendapat pahala yang sama.

Rintangan itu misalnya apa?

Misalnya kesibukan. Kesibukan jelas akan terus bertambah. Sehingga kalau Muroja’ah  menunggu tidak sibuk, itu tidak mungkin. Itu artinya, selamanya tidak akan bisa Muroja’ah .

Contoh kedua, semangat. Makin hari semangat itu akan berkurang. Semangat itu syahwat. Keinginan yang menggebu-gebu, ini namanya syahwat. Syahwat inilah yang membakar seseorang untuk menghafal al-Qur’an.

Cuma, syahwat ini biasanya tak bertahan lama. Makanya jangan bersandar kepada syahwat, karena pasti aka ada lelah atau surutnya. Syahwat ini sebagai pemantik saja.

Nah, Allah kemudian menghadirkan kendala-kendala seperti kesibukan dan sebagainya,  agar porsi syahwatnya berkurang. Pada akhirnya syahwat akan hilang, berganti dengan keikhlasan. Penggerak menghafal bukan lagi syahwat, tapi keikhlasan. Ini memang berat. Contoh, makan tidak ada  selera pasti sulilt sekali untuk makan. Sama dengan menghafal al-Qur`an, jika nafsu sudah hilang akan berat. Tetapi ketika terasa berat, itu tandanya ikhlas sudah datang. Tentu, syaratnya harus tetap bertahan Muroja’ah , maka akan datang kenikmatan ikhlas. Syahwat itu nikmat juga, tapi nikmat ikhlaslah yang abadi. Ini nikmat yang tidak akan berakhir, justru semakin bertambah.

Agar istiqomah Muroja’ah  meski hadir kendala, apa yang harus dilakukan?

Kalau saya justru saya balik. Kendala pada para penghafal al-Qur’an kebanyakan tidak nyata. Adanya hanya di dalam fikiran yang diciptakan sendiri. Ada sih kendala yang sifatnya nyata. Misalnya kesibukan bekerja atau mencari nafkah. Ini kesibukan yang tak mungkin kita abaikan. Saya dulu juga sibuk sekali, namun bisa saya atasi. Yang bahaya itu kendala yang tidak nyata itu yang ada di dalam diri.

Nah, pengalaman selama menjaga hafalan, saya malah punya pikiran terbalik. Bukan karena kesibukan sehingga tak sempat Muroja’ah . Justru karena tidak Muroja’ah , maka muncul kesibukan-kesibukan yang tak ada akhirnya. Jadi kesibukannya tidak terurai karena tidak diiringi Muroja’ah . Mahasiswa sibuk menulis skripsi sehingga tak sempat Muroja’ah . Padahal disebabkan  tidak Muroja’ah , skripsi tidak kelar-kelar.

Mungkin muncul rasa bosan menghafal. Itu porsi Muroja’ah  kurang. Coba porsinya ditambah, nanti rasa bosannya bakal hilang. Muncul kendala di dalam hati bukan sebab susah Muroja’ah . Justru tidak Muroja’ah , timbul kendala dalam hati.

Bahkan gini, ini saya katakan berkali-kali pada diri sendiri. Waktu emas penghafal al-Qur’an adalah ketika muncul rasa bosan. Artinya,  bertahan (tetap Muroja’ah ) saat muncul rasa bosan, maka pencapaiannya akan dua kali lipat. Rasa bosan menjadi pemantik bertambahnya semangat. Itu yang saya tanamkan ke dalam jiwa saya.

Al Qur’an itu membuat ketenangan. Maka salah jika gara-gara resah lalu tidak baca al-Qur’an. Bukan itu persoalannya. Justru karena keresahan itu kita butuh al-Qur’an. Justru pikiran tidak beres kita butuh al-Qur’an.*

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Sumber : Hidayatullah.com
Share on Google Plus

About Admin

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar