Bukan Fiksi, Al-Qur’an Otentik Hingga Akhir Zaman - 1


Qiroati Pusat – Seiring dengan panasnya isu politik, muncullah beberapa istilah menjadi polemik lantaran untuk meningkatkan popularitas tokoh atau menjatuhkannya. Diantara yang istilah yang menjadi polemik tersebut adalah kata fiksi yang disandingkan pada Kitab Suci saat acara ILC. Karena belum adanya kesepakatan sudut pandang dalam pemberian makna fiksi, sehingga polemik Kitab Suci itu Fiksi berlanjut di luar acara. Timbullah pertanyaan, apakah al-Qur’an termasuk fiksi?

Umat Islam meyakini Al-Qur’an adalah Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam. Bagi umat Islam, al-Qur`an berfungsi menjadi pegangan hidup sampai Hari Kiamat. Karena itulah, Allah akan senantiasa menjaga ke-orisinil-an al-Qur’an :

إنَّا نَحْنُ نَزَّلْناَ الذِّكْرَ وَإنَّا لَهُ لَحَافِظُوْنَ

“Sesungguhnya Kami yang menurunkan al-Qur`an dan Kami sendiri yang akan menjaganya.” (Qs. Al-Hijr : 9)

Dengan demikian, al-Qur`an terjamin keotentikannya hingga Kiamat nanti. Tentu hal ini berbeda dengan kitab-kitab yang lain, termasuk kitab Samawi yang lain seperti Taurat, Zabur dan Injil yang tidak terjamin keasliannya.

Skenario Allah Menjaga Al-Qur’an

Dalam kitab-kitab ‘Ulum al-Qur’an, proses penjagaan al-Qur’an pada masa dahulu disebut dengan Jam’u (menghimpun), seperti Jam’ul Qur’an masa Abu Bakar yaitu menghimpun teks-teks al-Qur’an yang berserakan pada satu tempat. Kata Jam’u sendiri memiliki arti mengumpulkan di dalam hati dengan jalan menghafal dan memperlihatkan dan mengumpulkan berbentuk tulisan dengan cara penulisan dan ukiran. (At-Tibyan fi Ulum al-Qur`an, hlm. 49). Manna’ al-Qathan menambahkan dengan membedakan ayat-ayat dan surah-surah, menyusun ayat-ayat serta menyusun urutan surah-surah. (Mabahits fi Ulum al-Qur’an, hlm. 118)

Pada masa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, proses pengumpulan al-Qur’an ada pada hafalan. Sebagaimana Allah berfirman :

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ

“Sesungguhnya Kamilah yang akan mengumpulkannya (menanamkannya dalam dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.” (Qs. Al-Qiyamah : 17)

Hal ini lebih pada karena masa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam banyak shahabat dan Nabi sendiri yang tidak bisa baca dan tulis. Namun demikian, bangsa Arab sangat dikenal dengan kuatnya hafalan.

Maka, ketika wahyu turun, baik satu ayat atau lebih, Nabi langsung mengajarkannya pada para shahabat. Para sahabat juga langsung menghafalnya dan mengulang-ulangi hafalan mereka sampai benar-benar hafal. Setelah mendapat ajaran dari Nabi, mereka pulang ke rumah dan mengajarkannya kepada keluarga yang dirumah. (At-Tibyan fi Ulum al-Qur’an, hlm. 50)

Diantara shahabat yang hafal al-Qur’an adalah Abdullah bin Mas’ud, Salim bin Ma’qal Mawla Abi Hudaifah, Mu’adz bin Jabal, Abu Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Zaid bin al-Sakkan dan Abu al-Darda’. (Mabahitsul Qur’an, hlm. 119)

Nabi juga menyuruh sebagian para sahabat yang terpilih untuk mengumpulkan al-Qur’an dalam bentuk tulisan. Dan Nabi juga mengajarkan mereka meletakkan ayat-ayat sesuai dengan surah-surahnya. Sahabat yang terpilih adalah Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Mu’adz bin Jabal, Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan keempat sahabat yang menjadi Khulafa’ al-Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali Radhiyallohu ‘Anhum. (At-Tibyan fi Ulum al-Qur’an, hlm. 52)

Penulisan Al-Qur’an dalam Bentuk Mushaf

Setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam wafat, kepemimpinan digantikan oleh Abu Bakar ash-Shidiq. Karena khawatir akan lenyapnya al-Qur’an, Umar bin Khattab memberikan usulan kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan al-Qur’an yang berserakan. Abu Bakar menyuruh Zaid bin Tsabit untuk mengerjakannya. (At-Tibyan fi Ulum al-Qur’an, hlm. 54). Hingga akhirnya al-Qur’an terkumpul dalam satu mushaf.

Pada masa Utsman bin Affan, tepatnya pada saat perang Armenia dan Azerbeijan. Hudzaifah bin Yaman yang ikut dalam dua perang tersebut melihat banyak sekali perbedaan dalam jenis-jenis bacaan al-Qur’an. Bahkan ada yang mengkafirkan satu sama lain. Perbedaan ini mungkin dipengaruhi oleh perbedaan wilayah, karena saat itu wilayah Islam telah meluas.

Hingga Hudzaifah mengusulkan pada Utsman agar menghimpun mushaf yang ada pada masa Abu Bakar, menyalin dan memperbanyaknya untuk dikirim di wilayah-wilayah Islam. Hal ini supaya perselisihan yang terjadi tidak berlarut-larut sebagaimana yang terjadi pada umat Yahudi dan Nasrani yang berujung pada tahrif dan tabdil.

Kemudian Utsman mengirimkannya pada Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin al-Ash, Abdurrahman bin Harits dan memerintahkannya untuk mengganti mushaf tersebut sesuai dengan lisan Quraisy, karena al-Qur’an turun dengan lisan Quraisy. (Mabahits fi Ulum al-Qur’an, hlm. 128). Dari sinilah ada istilah al-Qur’an Rasm Utsmani. (BERSAMBUNG)

Penulis : Zamroni
Sumber : kiblat.net



Share on Google Plus

About Admin

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar