Pelajaran dari Sang Lebah

Lebah

Qiroati Pusat – Di dalam madu terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.

Allah memerintahkan lebah untuk membuat sarang di bukit-bukit, pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibangun manusia. Mereka diperintahkan untuk makan dari tiap-tiap (macam) buah-buahan. Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya.

Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang berpikir. (QS an-Nahl: 68-69).

Firman Allah ini mengisahkan sebuah petunjuk bagi lebah. Agar ia menjadikan gunung-gunung sebagai rumah yang menjadi tempat tinggal, juga pepohonan, serta tempat-tempat yang dibuat oleh manusia. Kemudian lebah-lebah itu membuat rumah-rumahnya dengan penuh ketekunan dalam menyusun dan menatanya. Tak ada satu pun bagian rumahnya menjadi rusak.

Petunjuk ini memang penting bagi lebah madu untuk menentukan tempat tinggal yang ideal yaitu tempat yang terdapat cukup banyak makanan di sekitar sarangnya. Untuk mendapatkan tempat yang ideal, ratusan lebah bertindak sebagai pengintai dengan tugas menyelidiki keberadaan tempat tinggal yang cocok di sekitar sarang lama. Jika menemukan tempat yang cocok, mereka memberitahukan hal itu ke koloninya yang berada di sarang lama dengan tarian goyang lebah.

Pertunjukan tarian ini disaksikan oleh ratu lebah, lebah pejantan, dan lebah pekerja lain yang berada di sarang lama. Mereka berlomba-lomba mencari perhatian dengan cara meningkatkan kualitas tariannya.

Hal yang menarik dalam persaingan ini adalah ketika lebah pengintai merasa bahwa ada lebah pengintai lain yang menemukan sarang lebih baik dari yang ia temukan, ia akan ikut mendukung lebah pengintai itu dengan ikut mengunjungi tempat yang dimaksud.

Untuk mendapatkan lokasi mana yang terpilih, para lebah pengintai akan `berkoalisi' dengan lebah pengintai lain, sehingga jumlah yang mendukung sebuah lokasi ideal akan memenuhi jumlah mayoritas. Persaingan akan makin lama jika lokasi yang ditawarkan makin banyak, sedangkan lebah-lebah pengintai mulai membangun koalisi-koalisi antar mereka sendiri.

Pilihan akan makin mengerucut hingga hanya terdapat dua lokasi yang hampir sederajat kualitasnya. Untuk menentukan lokasi mana yang dipilih oleh lebah-lebah lain yang menunggu di sarang, lebah pengintai akan menari dengan lebih banyak putaran pada lokasi yang lebih bagus, sedangkan lebah pengintai lain akan menari dengan lebih sedikit putaran pada lokasi yang kurang bagus.

Kemudian masing-masing dari mereka kembali ke rumah-rumah mereka, tanpa ada satu pun yang keliru memasuki rumahnya baik sebelah kanan mau pun kirinya, tetapi masing-masing memasuki rumahnya sendiri-sendiri, yang di dalamnya terdapat ribuan anak-anaknya dengan persediaan madu.

Kisah ini menggambarkan pentingnya kebersamaan dalam menjalani kehidupan. Satu orang lebah tak akan mampu membuat sarang yang besar, mencari makan, dan menjalani berbagai aktivitas untuk bertahan hidup. Namun, dengan kebersamaan, semuanya akan terasa mudah.

Lebah juga memberikan ibrah berharga tentang pentingnya menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk kehidupan. Madu yang dihasilkan lebah menjadi komoditas kesehatan yang dicari banyak orang. Khasiatnya diakui berbagai pihak sebagai antioksidan peningkat daya tahan tubuh. Ini adalah hasil yang berguna bagi banyak orang.

Ibrah itu memotivasi makhluk hidup lainnya untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai sama: bermanfaat bagi orang banyak. Karena itu manusia dalam hidupnya harus mampu mengukir dan menghasilkan sesuatu yang faidahnya dirasakan orang banyak.

Di dalam madu terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Maksudnya. Sebagian orang yang berbicara tentang pengobatan ala Nabi berpendapat, madu adalah obat bagi segala macam penyakit.

Suatu hari ada seseorang yang mendatangi Rasulullah. Dia menceritakan jika saudaranya sedang sakit perut. Kemudian Rasulullah memerintahkannya untuk memberikan madu kepada saudaranya itu. Hamba Allah tersebut pulang untuk melaksanakan anjuran Rasulullah.

Namun, dia kembali mendatangi Rasul dan mengeluh karena saudaranya tak juga membaik justru bertambah parah keadaannya. Anjuran yang kedua pun tetap sama, Rasul memerintahkan untuk memberikan madu.

Setelahnya, dia datang kembali dan penyakit saudaranya pun tak kunjung sembuh. Sakitnya lebih parah daripada sebelum-sebelumnya. Maka Rasulullah bersabda, Mahabenar Allah dan perut saudaramu yang berdusta. Pergi dan berilah dia minum madu. Kemudian dia pun pergi dan memberinya minum madu hingga akhirnya saudaranya itu sembuh.

Ketika madu itu makin mendorong sisa-sisa makanan yang sudah rusak dan membahayakan bagi badan, perutnya bertahan dan tekanannya pun menjadi normal, sehingga semua penyakit terdorong keluar berkat petunjuk Rasulullah.

Ada beberapa ahli ilmu kedokteran mengatakan, pada perut orang itu terdapat banyak endapan sisa makanan, dan setelah diberi asupan madu, yang memang madu itu panas, maka endapan kotoran itu terlepas dan segera terdorong. Hal itu membuat perutnya bertambah sakit.

Dalam kitab Shahih al-Bukharidi sebutkan dari Ibnu `Abbas, Rasulullah berkata, Kesembuhan itu ada pada tiga hal, yaitu pada pembekaman, pada minum madu, atau pembakaran dengan api. Aku melarang umatku dari kayy (pengobatan dengan cara pembakaran). Sumber



Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar