Rasulullah pun Menyambut Hujan

Hujan deras/ilustrasi

Qiroati Pusat – Hujan merupakan bagian dari rahmat Allah yang turun ke bumi.

Buliran air yang melimpah turun ke bumi. Dia ditunggu-tunggu. Panasnya kemarau yang datang berbulan-bulan membuat rindu kian tebal. Teduhnya hujan membuat tidur makin nyenyak tanpa berkeringat.

Hujan itu menjawab doa dalam shalat-shalat kita. Dia datang bak anak yang pulang setelah begitu lama pergi dari rumahnya. Namun, setelah datang beberapa pekan, hujan itu terkadang menyebabkan air sungai meluap. Banyak daerah di nusantara yang harus menderita banjir pada musim hujan ini. Belum lagi angin yang menyertai. Sampai-sampai atap rumah hingga mobil beterbangan.

Hujan yang dirindukan kini diumpat. Doa-doa yang terucap berubah menjadi makian. Patutkah kita berlaku begitu kepada sang hujan? Hujan merupakan bagian dari rahmat Allah yang turun ke bumi. Allah SWT berfirman dalam beberapa ayatnya di Alquran.

"Yang menjadikan untuk kamu, bumi sebagai tempat yang mantap dan Dia menjadikan untuk kamu jalan-jalan di sana supaya kamu mendapat petunjuk. Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar. Lalu Kami hidupkan dengannya yang mati. Seperti itulah kamu akan dikeluarkan." (QS az-Zukhruf: 10-11).

Prof Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah menjelaskan, ayat di atas merupakan peralihan dari gaya persona ketiga pada firman-Nya ja'ala lakum, "Dia menjadikan untuk kamu ke persona pertama pada firman-Nya, Kami hidupkan dengannya."

Pengalihan gaya itu agaknya untuk mengisyaratkan bahwa penumbuhan tumbuhan dan meng hidupkan yang mati sungguh jauh lebih hebat daripada menurunkan hujan. Hal itu hendaknya menjadi perhatian dan renungan setiap orang.

Penegasan bahwa Allah menurunkan hujan secara bertahap dan dengan kadar tertentu meng isyaratkan bahwa turunnya hujan bukanlah secara otomatis tanpa pengaturan Allah SWT.

Melainkan, Dia yang mengatur turunnya dan dengan kadar yang ditetapkan- Nya. Ini melalui hukum alam yang juga menjadi ketetapan-Nya dan atas dasar doa dan shalat Istisqa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Lebih jauh, Quraish menjelaskan, ayat 10 di atas menunjukkan keesaan dan kuasa-Nya mencipta dan mengatur alam raya. Sedangkan, ayat 11 menguraikan kuasa-Nya mencipta kembali dan membangkitkan manusia sesudah kematiannya. Ini dengan mengurai tentang hujan yang bermula dari laut dan sungai, lalu menguap ke udara dan kembali lagi ke bumi.

Dengan air yang turun itu, Allah menghidupkan tanah yang tadinya tandus. Quraish pun me nyimpulkan kedua ayat tersebut mengisyaratkan dua prinsip pokok keimanan, keesaan Allah dan keniscayaan kiamat. Dua rukun ini disebut kerap mewakili rukun iman lainnya.

Allah SWT memaparkan bukti-bukti kekuasaan-Nya pada hujan dalam ayat lainnya. "Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang dituai, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba, dan Kami menghidupkan dengannya tanah yang mati. Seperti itulah kebangkitan." (QS Qaaf: 9).

Kali ini, yang diuraikan adalah beberapa dampak yang diperoleh dari penciptaan langit dan bumi, yakni air hujan yang bersumber dari laut dan sungai yang terhampar di bumi. Air itu pun menguap ke angkasa akibat panas matahari.

Dari sini, Allah SWT menyebutkan karunia-Nya kepada makhluk-makhluk-Nya dengan menurunkan air sebagai sumber kehidupan di pentas bumi ini. Aneka tumbuhan, bunga-bungaan, buah-buahan, dan pohon yang dicontohkan yakni kurma nan tinggi. Dia menjulang ke atas bersama mayang yang bersusun-susun karena banyaknya zat buah yang ada di dalamnya. Semua itu untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba Allah SWT.

Ketika Rasulullah SAW masih hidup, baginda kerap menyambut hujan. Nabi SAW pun segera pergi ketika melihat air yang mengalir. Dia bersabda, "Keluarlah kalian bersama kami kepada ini yang Allah jadikan ia suci-me nyucikan, lalu kita bersuci dengannya, dan kita memuji Allah karenanya."

Begitu pula Umar bin Khattab ketika menghadapi kemarau nan panjang. Syahdan, ada seorang lelaki berkata kepada Khalifah Umar RA, "Hai Amirul Mu'minin, hujan telah lama tidak turun dan manusia berputus asa dari turunnya hu jan." Maka Umar RA menjawab, "Kalian sebentar lagi akan diberi hujan," lalu ia membaca firman-Nya: Dan Dia lah yang menurun kan hujan sesu dah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya.

Imam Syafii berkata, ketika Umar bin Khattab RA melihat luapan air, dia mendatangi itu bersama para sahabatnya. Umar pun berkata, "Tidaklah seorang datang dari tempat datangnya, kecuali kami mandi dengannya."

Diriiwayatkan dari Ibnu Abbas RA, suatu ketika hujan turun dari langit. Dia berkata kepada para pembantunya. "Keluarkanlah tempat tidur dan tungganganku agar terkena hujan." Abu Jauza; berkata kepada Ibnu Abbas, "Ke napa engkau melakukan itu, yar hamukallah?"

Ibnu Abbas menjawab, "Tidakkah engkau mem baca dalam Alquran "Dan Kami menurunkan dari langit air yang berkah!" Oleh karena itu, aku suka berkah itu mengenai tempat tidur dan tungganganku." Begitu banyak rahmat yang Allah turunkan lewat hujan. Tidak sepantasnya kita mengeluh.

Adanya banjir tak lepas dari kerusakan yang diperbuat oleh tangan-tangan manusia. Ber ton-ton limbah industri dan sampah rumah tangga masih ke rap mengalir ke sungai dan laut an. Pembabatan hutan di ganti dengan hotel dan vila mem buat air yang turun tak terserap ke bu mi. Belum lagi efek rumah kaca yang membuat bumi makin pa nas.

Tak heran, Allah SWT pun su dah mengungkapkan di dalam Alquran jika kerusakan yang di buat akan dirasakan oleh para perusaknya. "Telah tampak ke ru sakan di darat dan di lautan aki bat perbuatan tangan (mak siat) manusia, supaya Allâh mera sa kan kepada mereka sebagian da ri (aki bat) perbuatan mereka, agar me reka kembali (ke jalan yang be nar)." (QS ar-Rum [30]: 41).

Maka, masih patutkah kita me nyalahkan hujan ketika musi bah datang? Jika iya, mungkin kita masih butuh kembali merenungi 31 ayat yang diulang-ulang dalam surah ar-Rahman. "Nik mat mana lagi yang kamu dustakan?" Wallahu a'lam. Sumber



Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar