Keutamaan Belajar dan Mengajar di Masjid

Keutamaan Belajar dan Mengajar di Masjid

Qiroati Pusat
 – Ada amalan ringan luar biasa, yaitu belajar agama di masjid.

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتُهُ

“Siapa yang berangkat ke masjid yang ia inginkan hanyalah untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, ia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna hajinya.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8: 94. Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 86 menyatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Ada lima kiat penting dalam belajar:


1. Membersihkan sebelum mengisi


Ada kaidah yang dikenal oleh para ulama,

التَّخْلِيَّةُ قَبْلَ التَّحْلِيَّةِ

At-takhliyyah qabla at-tahliyyah yaitu membersihkan sebelum mengisi. Sebelum hati diisi oleh ilmu, berarti hati dibersihkan dahulu.

Kaedah di atas diungkapkan oleh Ibnul Qayyim dalam faedah kesepuluh dari kitab beliau yang sungguh berharga yaitu Al-Fawaid, hlm. 56. Beliau rahimahullah mengungkapkan, “Kalau suatu tempat sudah bersih, pasti akan sulit dimasuki oleh lawannya. Hal ini terjadi pada sesuatu yang nampak dan dirasakan secara inderawi, begitu pula pada keyakinan dan iradah. Jika hati terisi dengan akidah dan kecintaan yang batil, maka tidaklah ada tempat untuk kebenaran di dalamnya. Sebagaimana lisan jika disibukkan dengan kata-kata yang tidak manfaat, maka tentu lisan tersebut sulit disibukkan dengan ucapan-ucapan yang bermanfaat, yang ada lisan hanya disibukkan dengan ucapan kebatilan. Begitu pula anggota badan jika telah disibukkan dengan selain ketaatan, tidak mungkin lagi tersibukkan dengan ketaatan, pasti hanya akan tersibukkan dengan lawannya.”

Sahl bin ‘Abdullah rahimahullah berkata, “Cahaya ilmu sulit masuk pada hati yang masih terisi dengan sesuatu yang Allah benci.”



2. Niat ikhlas dalam belajar


Yang dimaksud ikhlas dalam belajar–sebagaimana kata Syaikh Shalih Al-’Ushaimi hafizhahullah–:

a- Belajar agama untuk menghilangkan kebodohan pada diri sendiri.

b- Belajar agama untuk menghilangkan kebodohan pada orang lain.

c- Belajar agama untuk menghidupkan dan menjaga ilmu.

d- Belajar agama untuk mengamalkan ilmu.

Walaupun awalnya orang masuk Islam atau belajar Islam hanya untuk dunia, namun niatnya nantinya bisa berubah karena ilmu yang menuntunnya. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إِلاَّ الدُّنْيَا فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُونَ الإِسْلاَمُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا

“Sesungguhnya pada zaman dahulu, ada sebagian orang yang masuk Islam hanya mengharapkan dunia. Sesudah ia berada dalam Islam, akhirnya Islam menjadi lebih ia cintai daripada dunia dan segala isinya.” (HR. Muslim, no. 2312)

Ad-Daruquthni berkata,

طَلَبْنَا العِلْمَ لِغَيْرِ اللهِ فَأَبَي أَنْ يَكُوْنَ إِلاَّ لله

“Kami dahulu menuntut ilmu karena ingin gapai ridha selain Allah. Namun ilmu itu enggan, ia hanya ingin niatan tersebut untuk Allah.” (Disebutkan dalam Tadzkirah As–Saami’ waAl-Muta’allim, dinukil dari Ma’alim fi ThariqThalabAl-‘Ilmi, hlm. 18)



3. Terus semangat dalam belajar


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

“Semangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu, minta tolonglah pada Allah, dan jangan malas (patah semangat).” (HR. Muslim,no. 2664).



4. Pelajari ilmu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah


Syaikh Shalih Al-‘Ushaimi hafizhahullahberkata bahwa semua ilmu yang bermanfaat kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ilmu yang lain bisa jadi adalah turunan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Atau ada ilmu di luar dari dua sumber tadi, namun bukan suatu darurat jika tidak dipelajari. (Ta’zhim Al-‘Ilmi, hlm. 46)

5. Mempelajari ilmu dari guru


Ada faedah belajar dari guru secara langsung:

Lebih ringkas dalam meraih ilmu. Beda halnya jika ilmu diperoleh dari buku, yang butuh penelaan yang lama. Seorang guru bisa meringkas perselisihan ulama yang ada dan bisa mengambil pendapat yang lebih kuat.
Lebih cepat memahami ilmu. Memang nyata, belajar dari guru lebih cepat memahami dibanding dengan otodidak. Karena dalam membaca bisa jadi ada hal-hal atau istilah yang sulit dipahami. Namun akan sangat terbantu ketika belajar kepada seorang guru.
Ada hubungan antara murid dan guru, yaitu antara yang junior dalam mencari ilmu dan yang telah banyak makan garam (alias: berpengalaman).


Nantikan kumpulan amalan ringan berikutnya berserial, dan insya Allah akan menjadi sebuah buku.

Bahasan ini dikembangkan dari kitab “Al-Ajru Al-Kabir ‘ala Al-‘Amal Al-Yasir” karya Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Cetakan pertama, Tahun 1415 H, Penerbit Dar Ibnu Hazm.




[sumber]



Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar